Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Koordinator Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, menjelaskan kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim melakukan serangkaian pengujian dan analisis dengan mengacu pada prinsip teori segitiga api. Hasil pengukuran menunjukkan medan elektromagnetik di lokasi berada pada tingkat aman dan tidak berperan sebagai pemantik kebakaran.
"Yang berarti bukan pemantik nyala api. Sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai), tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas yang dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," kata Alva di Fakultas Teknik UGM, Sabtu (13/6/2026).
Sebagai bagian dari investigasi, pada Jumat (12/6) tim mengambil sampel residu kebakaran yang menempel pada permukaan dinding keramik, kayu, dan tripleks di rumah Fia.
Sampel tersebut dianalisis menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil analisis menunjukkan adanya kandungan poly vinyl chloride (PVC) pada residu pembakaran, suatu temuan yang dinilai tidak lazim ditemukan pada permukaan material tersebut.
Menurut Alva, resin PVC diketahui merupakan material yang mudah terbakar apabila bertemu dengan sumber api atau ignition. Selain itu, hasil penelitian juga menjelaskan kemungkinan penyebab terdeteksinya gas hidrogen dalam pengukuran sebelumnya.
Alva menerangkan ketika PVC terbakar, material tersebut menghasilkan gas hidrogen klorida (HCl). Gas ini dapat terbaca sebagai gas hidrogen oleh alat deteksi tertentu yang menggunakan sensor membran H2, suatu fenomena yang dikenal sebagai cross sensitivity.
Keberadaan atom hidrogen dalam molekul hidrogen klorida dapat memicu reaksi pada elektroda sensor hidrogen sehingga alat mendeteksi seolah-olah terdapat gas hidrogen di lokasi.