Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Sejarah Londo Ireng, Istilah Sindiran Prabowo ke Jurnalis
Lukisan Jan Kooi, Kopral Belanda Hitam (londo ireng) oleh Johan Coenraad Leich. (commons.wikimedia.org/Museum Bronbeek)
  • Istilah "londo ireng" kembali menjadi sorotan setelah digunakan Presiden Prabowo Subianto untuk menyindir jurnalis, pengamat, dan LSM, sehingga memicu protes dari organisasi pers.

  • Secara historis, "londo ireng" merujuk pada serdadu asal Afrika Barat yang direkrut Belanda pada abad ke-19 untuk memperkuat pasukan kolonial di Hindia Belanda setelah Perang Jawa.

  • Seiring waktu, makna istilah tersebut bergeser menjadi label bagi pihak yang dianggap berpihak pada kepentingan asing atau kolonial, sehingga penggunaannya dalam konteks politik menuai perdebatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah "londo ireng" mendadak ramai diperbincangkan usai Presiden Prabowo Subianto memakainya buat menyindir jurnalis, pengamat, sampai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ucapan itu dilontarkan Prabowo dalam pidato peringatan Hari Lahir PKB di JCC Senayan, Kamis (23/7/2026), dan langsung memicu protes keras dari sejumlah organisasi pers yang menuntut permintaan maaf resmi.

Tapi sebelum ikut larut dalam perdebatan soal maksud sindirannya, ada baiknya kamu kenalan dulu sama asal usul istilah ini yang sebenarnya. "Londo ireng" bukan kata baru, melainkan sebutan yang lahir dari peristiwa sejarah kolonial hampir dua abad silam. Simak lima faktanya berikut ini!

1. Asal kata londo ireng dalam bahasa Jawa

Secara harfiah, "londo ireng" berasal dari bahasa Jawa. Kata "londo" berarti orang Belanda atau Eropa, sedangkan "ireng" artinya hitam. Digabung jadi satu, istilahnya bermakna "Belanda hitam".

Dalam literatur sejarah kolonial, kelompok yang dimaksud lebih dikenal dengan sebutan Zwarte Hollanders atau Black Dutchmen. Istilah ini dipakai sejarawan Belanda Ineke van Kessel dalam bukunya, Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië (2005), yang menjadi salah satu rujukan utama soal sejarah kelompok ini. Nah, "londo ireng" sendiri adalah sebutan yang lebih akrab di telinga masyarakat Jawa buat kelompok tersebut.

2. Muncul usai Perang Jawa bikin Belanda kehabisan prajurit

Potret Johannes van den Bosch karya Raden Saleh. (Commons.wikimedia.org/Rijksmuseum)

Kemunculan londo ireng gak bisa dilepaskan dari dampak Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Perang besar melawan Pangeran Diponegoro ini bikin Belanda kehilangan sekitar 8.000 serdadu kulit putih Eropa, baik yang gugur di medan perang maupun jadi korban penyakit tropis.

Di saat bersamaan, Belgia baru saja memisahkan diri dari Kerajaan Belanda, sehingga sumber daya militer Eropa ikut menipis. Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, sosok yang juga dikenal sebagai arsitek sistem tanam paksa atau cultuurstelsel, akhirnya mengusulkan solusi: merekrut serdadu dari Afrika Barat buat menutup kekurangan pasukan.

3. Direkrut dari Afrika Barat lewat perjanjian dengan Kerajaan Ashanti

Sepanjang 1831 hingga 1872, Belanda merekrut lebih dari 3.000 orang dari wilayah yang kini masuk Ghana dan Burkina Faso. Sebagian bergabung secara sukarela sebagai tentara bayaran, tapi ada juga yang berasal dari kalangan budak atau tawanan perang yang dibeli lewat perjanjian dengan Kerajaan Ashanti.

Para serdadu ini disebar ke berbagai wilayah, mulai dari Semarang, Salatiga, sampai Solo. Namun konsentrasi terbesarnya ada di Purworejo, Jawa Tengah, wilayah yang dulunya jadi basis pasukan Pangeran Diponegoro sehingga terus diawasi ketat pihak kolonial. Jejak permukiman mereka masih bisa ditemukan sampai sekarang, dikenal dengan nama Kampung Afrikan atau Gang Afrikan.

4. Dapat status setara serdadu Eropa, tapi tetap kena diskriminasi

Kopral Belanda, B. van Weenen, ilustrasi londo ireng (Belanda Hitam). (commons.wikimedia.org/PHK van Schendel)

Berkat perjanjian dengan Kerajaan Ashanti, para serdadu Afrika ini dikategorikan sebagai warga negara Belanda. Status itu bikin mereka dapat gaji, fasilitas, dan tempat tinggal yang setara dengan serdadu Eropa, termasuk tinggal satu tangsi. Mereka bahkan punya hak menikahi perempuan pribumi atau nyai.

Meski begitu, status "istimewa" itu gak lantas bikin hidup mereka mulus. Para londo ireng tetap kerap menghadapi diskriminasi rasial dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari tanah kelahiran mereka di Afrika.

5. Jadi istilah sindiran usai dipakai Prabowo ke jurnalis dan LSM

Seiring waktu, makna londo ireng bergeser jauh dari makna aslinya. Istilah ini gak lagi sekadar merujuk pada keturunan Afrika, tapi berkembang jadi label bagi orang pribumi yang dianggap berpihak ke kepentingan kolonial, semacam "antek penjajah" atau "pengkhianat bangsa".

Makna peyoratif itulah yang dipakai Prabowo saat menyebut jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai bentuk baru londo ireng, karena dinilai lebih membela kepentingan asing lewat kritik-kritik ke pemerintah. Pernyataan ini menuai kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menilai istilah tersebut merendahkan profesi jurnalis. Senada, PWI Jaya juga menyebut pelabelan itu sebagai bentuk distorsi sejarah yang mengabaikan peran pers dalam mengisi kemerdekaan.

Itulah lima fakta sejarah di balik istilah londo ireng yang kembali ramai usai dipakai Presiden Prabowo Subianto. Ternyata, kata ini menyimpan akar sejarah panjang, jauh sebelum jadi bahan perdebatan politik hari ini. Biar gak salah paham, penting buat kamu mencerna dulu konteks sejarahnya sebelum ikut menilai sebuah istilah, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article