Tips Urban Farming Bawang Merah di Galon ala Warga Gemblakan Jogja

- Daliman di Gemblakan, Yogyakarta, membudidayakan bawang merah dan sayuran lain di galon bekas pada halaman rumah lantai dua sebagai praktik urban farming.
- Bawang merah ditanam dalam campuran tanah dan sekam yang gembur, disiram sehari sekali, lalu dipanen sekitar dua bulan; cabai ditanam menyusul agar panen berkelanjutan.
- Dari setengah kilogram bibit brambang, Daliman mengembangkan sekitar 50 galon tanam dan memanfaatkan kotoran ayam sebagai media tanam, mendukung pangan serta penghasilan warga.
Yogyakarta, IDN Times - Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan tidak menghalangi masyarakat untuk bercocok tanam. Konsep urban farming memungkinkan lahan terbatas di sekitar rumah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menambah penghasilan.
Hal itu dilakukan Daliman, warga Gemblakan, Kelurahan Danurejan, Kota Yogyakarta. Ia menggunakan galon bekas sebagai media tanam untuk membudidayakan berbagai sayuran dan tanaman pangan di lahan rumahnya.
Perlu media tanam yang gembur
Pada Senin (24/8/2026), Daliman bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan memanen bawang merah dari hasil budidayanya.
Daliman mengatakan bawang merah membutuhkan media tanam yang gembur agar umbi dapat berkembang dengan baik. Ia mencampurkan tanah dan sekam sebagai media tanam, lalu menyiram tanaman satu kali sehari.
“Tanaman bawang merah membutuhkan tanah yang gembur, tidak keras, supaya umbinya cepat tumbuh. Penyiraman rutin, intinya sehari satu kali,” katanya dilansir laman resmi Pemkot Yogyakarta.
Selain bawang merah, ia menanam tomat, terong, dan cabai di halaman rumahnya yang berada di lantai dua. Bawang merah dapat dipanen sekitar dua bulan setelah ditanam. Daliman kemudian menanam cabai ketika bawang merah memasuki usia satu bulan, sehingga tanaman cabai tetap tumbuh saat bawang merah dipanen.
“Setelah satu bulan bawang merah, disusul cabai. Jadi ketika bawang merah dipanen, cabainya sudah ada dan tinggal menunggu panen. Lebih hemat, lebih praktis, dan lebih menguntungkan,” ungkapnya.
Setengah kg bibit jadi 50 galon media tanam

Budidaya bawang merah dengan urban farming ala Daliman, warga warga Gemblakan, Kelurahan Danurejan, Kota Yogyakarta. (Dok. Pemkot Yogyakarta) Dari sekitar setengah kilogram bibit brambang, Daliman dapat mengembangkannya hingga menjadi sekitar 50 galon media tanam. Sebagian hasil panen kali ini akan dikonsumsi, sedangkan sisanya disiapkan sebagai bibit untuk penanaman selanjutnya.
Selain brambang dan cabai, ia menanam terong, timun, dan tomat ceri dengan menyesuaikan jenis tanaman terhadap kondisi lahan dan lingkungan perkotaan. Daliman juga memelihara ayam dan memanfaatkan kotorannya sebagai bahan media tanam untuk mengurangi penggunaan pupuk.
Daliman mengajak masyarakat memanfaatkan ruang kosong di rumah untuk bercocok tanam. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menghasilkan pendapatan.
“Kalau ada tempat yang kosong bisa digunakan untuk bercocok tanam. Tentunya tanaman yang bisa mendatangkan rezeki. Kalau kita menanam, ada penghasilan, ada hasilnya,” katanya.
Inspirasi ketahanan pangan
Sementara, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menilai praktik yang dilakukan Daliman menunjukkan bahwa urban farming dapat diterapkan meski dengan lahan terbatas. Pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam juga dinilai dapat menjadi contoh bagi warga untuk membudidayakan bawang merah di lingkungan lain.
Menurutnya, urban farming dapat mendukung ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Selain bawang merah, warga dapat memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menanam cabai, tomat, sawi, dan terong.
“Ini menginspirasi warga untuk ketahanan pangan. Cabai kita tanam sendiri, bawang merah kita tanam sendiri. Bisa jadi solusi untuk perkotaan yang sempit. Urban farming di kota bisa berjalan walaupun tidak memiliki lahan yang besar,” jelasnya.
Wawan menambahkan, keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak bercocok tanam. Pemanfaatan barang bekas seperti galon dan ruang yang mendapat cukup cahaya matahari dapat dilakukan untuk membuat lahan sempit lebih produktif.
“Yang penting niat dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Lahan sempit sekalipun bisa menjadi tempat bercocok tanam,” imbuhnya.


















