Cerita Iqbaal Ramadhan Belajar Jadi Copet Demi Operasi Pesta Copet

Para pemain Pesta Copet, termasuk Iqbaal Ramadhan, menjalani workshop teknik mencopet dengan ponsel dummy dan latihan jari agar adegan terlihat nyata langsung di kamera.
Sutradara Edy Khemod mengangkat pengalaman melihat pencopetan dan memilih drama komedi berformat wawancara serta kilas balik untuk menampilkan perspektif pelaku dan korban.
Produser Ernest Prakasa menyebut penggarapan Pesta Copet sangat rumit; film Imajinari ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026.
Sleman, IDN Times - Berperan sebagai pencopet ternyata tidak cukup hanya mengandalkan akting. Para pemain film Operasi Pesta Copet harus menjalani workshop khusus untuk mempelajari teknik menyopet secara langsung.
Iqbaal Ramadhan, pemeran Ijal mengungkapkan proses tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama produksi film drama komedi yang disutradarai Edy Khemod. Produser dan Sutradara tidak ingin adegan pencopetan sekadar terlihat meyakinkan karena bantuan editing.
“Gak mau ‘editor yang nyopet’. Saya mau kalian bisa nyopet dalam satu gerakan pencopetan bisa dirasakan dan dilihat langsung sama kamera. Sehingga penonton percaya kalian bisa nyopet,” ujar Iqbaal menyampaikan pesan sang Produser Ernest Prakasa, saat jumpa pers Film Pesta Copet di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).
1. Para pemain belajar berbagai cara mencopet

Jumpa pers Film Operasi Pesta Copet di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Untuk mendalami peran pencopet, para pemain harus mempersiapkan secara khusus dan belajar teknik mencopet. Pelatihan tersebut dimulai dari memahami pola pikir seorang pencopet hingga mempelajari keterampilan teknis. Para pemain berlatih menggunakan ponsel dummy dan melatih kekuatan jari agar mampu mengambil benda hanya dengan dua jari.
“Jadi selama proses itu kita belajar bagaimana mindset seorang copet bisa muncul. Lalu setelah mindset, soft skill. Kita belajar hard skill-nya, kita belajar pickpocket,” kata Iqbaal.
Latihan tersebut ternyata tidak berhenti ketika proses syuting dimulai. Kemampuan para pemain benar-benar diuji ketika mereka harus melakukan adegan pencopetan di depan kamera. Menurut Iqbaal, ada sejumlah adegan yang mengharuskan kamera bergerak secara organik mengikuti tangan hingga wajah pemain. Kecepatan gerakan tangan saat mencopet membuat pengambilan gambar menjadi tantangan tersendiri.
Bahkan, asisten sutradara meminta para pemain memperlambat gerakan pencopetan agar kamera tetap mampu menangkap aksinya dengan jelas. Iqbaal mengaku proses tersebut membuat dirinya dan para pemain lain benar-benar terbiasa melakukan teknik pencopetan. “Saking kita benar-benar into nyopet, sehingga kita berpikir kalau misalnya suatu hari karier ini gak ada,” ujar Iqbaal berkelakar.
Bagi Iqbaal, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena dirinya tidak hanya terlibat sebagai pemain. Ia turut mendapat ruang untuk belajar mengenai produksi film dari sisi lain. Iqbaal juga terlibat sebagai produser dalam film ini.
2. Berangkat dari pengalaman Edy Khemod

Sutradara Film Operasi Pesta Copet, Edy Khemod. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Sutradara, Edy Khemod mengatakan ide Operasi Pesta Copet tidak sepenuhnya lahir dari ruang imajinasi. Ia pernah melihat langsung kasus pencopetan ketika grup musik Seringai yang digawanginya tampil di Solo. Saat itu, sejumlah pencopet dari Jakarta tertangkap setelah datang ke lokasi pertunjukan.
Khemod mengaku tertarik menggali lebih jauh alasan seseorang melakukan pencopetan. Menurutnya, persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang kerap melatarbelakangi tindakan tersebut. Ia juga memiliki pengalaman pribadi dengan lingkungan yang dekat dengan tindakan kriminal ketika masih kecil di Bandung. Pengalaman tersebut membuatnya merasa memiliki perspektif untuk memahami persoalan yang diangkat.
“Tujuannya gue membuat film ini adalah gue pengen kasih empati sebenarnya. Mari kita pelajari kenapa fenomena copet ini ada,” ujar Khemod.
Khemod sengaja memilih genre drama komedi. Menurutnya, persoalan yang serius tidak selalu disampaikan dengan pendekatan serius. “Gue bisa bikin film ini jadi sesuatu yang serius. Tapi kayaknya itu bukan gue. Kalau gue pribadi kayak apa sih gue orangnya? Lucu, musik, kritis. Gabungan itu semua. Kenapa gue harus jadi sesuatu yang bukan gue?” katanya.
Menariknya, Khemod menggunakan format wawancara sebagai salah satu cara bertutur dalam film. Cerita disampaikan melalui wawancara dengan karakter, kemudian divisualisasikan dalam bentuk adegan kilas balik. Format tersebut, menurut Khemod, membuat film dapat menghadirkan perspektif dari pelaku sekaligus korban secara lebih berimbang.
“Ada sudut pandang korban, tapi ada sudut pandang pelaku juga. To be fair, dikasih kesempatan dia memberitahu kenapa lu jadi pencopet. Tapi dikasih lihat juga dampak orang yang dicopet seperti apa,” ujarnya.
Ia menyebut pendekatan Khemod dalam film ini terinspirasi dari cara kerja jurnalistik dalam menghadirkan berbagai perspektif. “Jadi makanya kenapa gue menemukan formula wawancara ini supaya tidak ke mana-mana. Seperti sebuah metode jurnalisme. Hanya kita kemas jadi komedi,” kata Khemod.
3. Film yang penggarapannya rumit

Produser Film Operasi Pesta Copet, Ernest Prakasa. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Produser Film Operasi Pesta Copet, Ernest Prakasa menyebut film Operasi Pesta Copet menjadi film yang paling rumit yang pernah ia garap. “Dari pengalaman kami, film ini cukup complicated, bahkan mungkin salah satu yang paling complicated, karena banyak hal yang harus di-manage. Untungnya, kami punya tim yang solid untuk mewujudkan film ini.
Ernest mengatakan film ini sebenarnya komedi dengan bumbu tertentu. “Kami sempat berpikir apakah masuknya ke genre heist atau thriller, tapi akhirnya kami menyebutnya sebagai drama komedi pencopetan. Kami memilih istilah yang lebih familiar supaya penonton lebih mudah memahami filmnya,” ucap Ernest.
Menurut Ernest, komedi adalah salah satu cara paling efektif untuk menyampaikan atau deliver isu yang sebenarnya berat. “Dengan pendekatan komedi, isu tersebut bisa dibicarakan dengan cara yang lebih ringan dan lebih mudah diterima oleh penonton,” kata Ernest.
Sementara itu, para pemain lain menceritakan tantangan masing-masing. Zulfa Maharani yang berperan sebagai Tia mengaku tantangan terbesarnya adalah bermain komedi. Ia merasa terbantu dengan kehadiran Awwe sebagai konsultan komedi.
Kristo Immanuel sebagai Adut mengaku sempat merasakan tekanan karena unsur komedi cukup dominan dalam film. Namun, proses reading dan interaksi dengan pemain lain membuat tantangan tersebut terasa lebih ringan.
Berbeda dengan keduanya, Kawai Labiba yang memerankan Melodi mengaku tidak terlalu kesulitan membangun chemistry dengan pemain lain. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi, bermain gim, dan mengobrol bersama.
Film Pesta Copet dari rumah produksi Imajinari ini, dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026. Film ini menawarkan drama komedi dengan cerita pencopetan, sekaligus mengajak penonton melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih beragam.




















