Publik Figur Dukung Aksi Masyarakat Pati di Jakarta

- Aliansi Masyarakat Pati Bersatu berencana menggelar aksi massa di Jakarta pada 27 Agustus 2026, yang mendapat dukungan dari sejumlah publik figur.
- Edy Khemod mendoakan perjuangan warga Pati, sambil menekankan perlunya pendampingan pakar agar aspirasi tetap fokus dan tidak tersusupi isu lain.
- Ernest Prakasa mendukung perjuangan masyarakat melalui aksi jalanan, media sosial, maupun karya seni untuk menyuarakan kritik terhadap korupsi dan ketidakadilan.
Yogyakarta, IDN Times – Rencana aksi massa yang digagas Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di Jakarta, Kamis (27/8/2026), mendapat perhatian dari sejumlah publik figur. Musisi, hingga produser film menyatakan dukungan terhadap gerakan masyarakat yang dinilai membawa kepentingan rakyat.
Produser film sekaligus drummer Seringai, Edy Khemod mendoakan agar perjuangan masyarakat Pati dapat berjalan baik. Menurutnya, gerakan masyarakat sipil menjadi hal menarik karena menunjukkan keterlibatan publik dalam menyuarakan kepentingannya.
"Saya mendoakan yang terbaik buat teman-teman Pati. Menurut saya menarik banget, jadi contoh bahwa masyarakat sipil bisa menguasai negara. Itu menarik banget buat saya," ujar Khemod, di Yogyakarta, Selasa(25/8/2026).
Meski demikian, Khemod berharap gerakan masyarakat sipil tetap mendapat pendampingan dari para pakar. Hal itu dinilai penting agar aspirasi yang disampaikan tetap fokus dan tidak mudah disusupi kepentingan atau isu lain yang justru dapat mengaburkan tujuan gerakan.
"Semoga masyarakat sipilnya ditemani sama pakar-pakar yang bisa menjaga aspirasinya fokus dan tidak terpenetrasi isu yang tidak seharusnya," katanya.
1. Edy Khemod sebut situasi saat ini bukan hal mengejutkan

Sutradara Film Operasi Pesta Copet, Edy Khemod. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Menanggapi berbagai dinamika dalam aksi massa, termasuk adanya pelemparan batu terhadap rombongan bus terhadap massa aksi, Edy mengaku tidak terkejut. Menurutnya, berbagai situasi tersebut merupakan hal yang sejak lama telah ia khawatirkan. Ia bahkan mengaku telah menyuarakan persoalan serupa sejak menjadi mahasiswa pada 1998.
"Kalau ditanya situasinya sekarang kayak gitu-gitu, gak heran. Ini yang sudah gue protes sejak dulu, terus kemudian sekarang terjadi. Kalau ini terjadi, ya gue bilang juga apa," ujarnya.
Khemod mengatakan pandangannya terhadap situasi politik dan sosial saat ini tidak banyak berubah sejak dirinya masih menjadi mahasiswa pada 1998. “Saya sudah menyuarakan ini dari 98, ketika saya jadi mahasiswa. Dan ketika sekarang rezimnya terjadi, ya jangan heran kalau itu terjadi. Jadi saya bukan diam, tapi lebih ke, I know it, akan terjadi,” katanya.
2. Pembungkaman gerakan sudah diprediksi

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar aksi damai di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Khemod menanggapi adanya kekhawatiran terhadap pembungkaman suara gerakan masyarakat. Ia menilai kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan kekhawatiran yang pernah disuarakannya sejak era reformasi. "Karena saya sudah tahu ini akan terjadi. Jadi ketika ini terjadi, ya gak heran," katanya.
Ia menilai Indonesia saat ini sedang berada dalam fase yang memiliki kemiripan dengan situasi yang pernah terjadi pada 1998. "Lah sedang. Maksudnya sedang kok ini. Kita lagi di dalam fase yang sama. Ya sudah, tinggal kita jalani saja," ujarnya.
Menurut Khemod, masyarakat hanya perlu berpegang pada keyakinan dan nilai yang diyakini tanpa mudah terpengaruh oleh berbagai situasi politik. "Kita cuma bisa berjalan lurus sama keyakinan kita sendiri. Mau pemerintahan ganti apa ganti, semua segala, ya sudah. Gue cuma bisa percaya sama keyakinan gue, gue jalan lurus," katanya.
Prinsip tersebut, lanjut dia dibawa ketika menjadi musisi bersama Seringai maupun saat berkarya sebagai pembuat film. "Saya di Seringai, menjadi film maker sekarang, sama kok. Saya tetap yakin jalannya lurus seperti value saya dulu. Kayaknya cuma itu yang bisa kita lakukan sekarang," tuturnya.
3. Ernest Prakasa: Seni juga menjadi cara untuk berjuang

Produser Film Operasi Pesta Copet, Ernest Prakasa. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Dukungan terhadap gerakan masyarakat juga disampaikan produser sekaligus sutradara film Ernest Prakasa. Menurut Ernest, seniman memiliki cara tersendiri untuk menyuarakan kepentingan masyarakat melalui karya.
Ia menilai seni merupakan salah satu medium perjuangan yang dapat digunakan untuk menyampaikan kritik maupun menyuarakan ketidakadilan. "Tapi yang pasti apa pun yang terjadi, seni adalah seni dan seni adalah salah satu cara kita berjuang. Jadi, tidak mungkin kita menafikan perjuangan. Kita tetap dukung teman-teman yang berjuang untuk negara kita tercinta," ujar Ernest.
Menurutnya, bentuk perjuangan masyarakat bisa dilakukan melalui berbagai cara, mulai turun ke jalan, menyampaikan pendapat di media sosial, hingga menghasilkan karya seni. "Karena apa pun caranya, turun ke jalan, bersuara di media sosial, bersuara lewat karya, tujuannya sama. Tujuan kita adalah melawan sistem yang korup, melawan ketidakadilan," katanya.
Sebagai pembuat film sekaligus seniman, Ernest menegaskan tetap mendukung aksi yang bertujuan memperjuangkan kepentingan masyarakat. "Aku sebagai seorang pembuat film, sebagai seniman tetap mendukung penuh semua aksi yang bertujuan untuk memperjuangkan kebaikan buat kita sama-sama semuanya, mulai dari orang yang tinggal di Jakarta sampai yang tinggal di daerah," katanya.
Ia berharap berbagai suara masyarakat pada akhirnya memiliki tujuan yang sama, yakni mendorong perbaikan bagi Indonesia. "Saya rasa kita semua punya tujuan yang sama, yaitu untuk memperbaiki negara kita tercinta," ujar Ernest.



















