Tim dari Teknik Geologi UGM mengerahkan georadar untuk menyelidiki fenomena api misterius di rumah warga Seyegan Sleman. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Di tengah fenomena yang masih berlangsung tersebut, tim dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM mengerahkan perangkat georadar untuk menelusuri kemungkinan penyebab kemunculan api. Pemeriksaan dilakukan dengan memetakan kondisi bawah permukaan tanah di area rumah Fia.
Dari hasil pemindaian awal, tim menemukan sejumlah retakan pada lapisan tanah di bawah lantai rumah. Retakan dengan kedalaman bervariasi itu diduga dapat menjadi jalur pergerakan senyawa yang berkaitan dengan munculnya api dan kebakaran berulang.
Peneliti tim, Saptono Budi Samodra, mengatakan pemeriksaan difokuskan pada titik-titik yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi kemunculan api. Dari pembacaan alat, terlihat perbedaan antara lapisan tanah urukan di bagian atas dan tanah asli yang berada di bawahnya.
"Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono saat ditemui di rumah Fia.
Georadar bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz untuk memetakan struktur bawah permukaan tanah. Gelombang dipancarkan ke dalam tanah dan dipantulkan kembali ketika mengenai material dengan tingkat kepadatan berbeda, sehingga dapat memberikan gambaran kondisi lapisan di bawah tanah.
Pada hasil pemindaian, retakan terbaca sebagai garis-garis halus hingga celah yang lebih besar yang memotong sejumlah lapisan tanah. Sebagian retakan terlihat tegak lurus, sementara lainnya membentuk kemiringan tertentu. Temuan tersebut dinilai berpotensi memiliki keterkaitan dengan titik-titik kemunculan api.
Namun demikian, Saptono menegaskan bahwa hasil pembacaan georadar masih bersifat sementara dan memerlukan analisis lanjutan. Selain itu, kemampuan alat juga terbatas hingga kedalaman sekitar 20 meter dari permukaan tanah.
"Mungkin di bawah (retakan) masih berlanjut," terangnya.