Tanah Gerak di Triwidadi Pajangan Bantul, Puluhan Rumah Terdampak

Hujan lebat selama sepekan memicu tanah gerak di Padukuhan Guwo, Triwidadi, Bantul, menyebabkan sekitar 20 rumah terdampak dan satu rumah rusak parah.
Lokasi perumahan berada di perbukitan kapur dengan tanah labil; BPBD bersama tim UGM menelusuri penyebab, sementara pengembang bertanggung jawab atas penanganan dampak.
Tanah bergerak dua kali akibat curah hujan tinggi, warga diminta tetap waspada meski belum ada pengungsian maupun penanganan permanen di lokasi.
Bantul, IDN Times - Hujan lebat yang terjadi dalam sepekan terakhir memicu bencana tanah gerak di Padukuhan Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Akibatnya, puluhan rumah di kawasan perumahan tersebut terdampak, bahkan satu rumah rusak parah.
Sekretaris BPBD Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo, mengatakan tanah gerak yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan pergeseran tanah hingga 2,5 meter. Sedikitnya 20 rumah terdampak dan satu rumah mengalami kerusakan cukup parah.
"Jadi kejadian tanah gerak itu tidak berlangsung sekali, namun sudah dirasakan oleh warga yang tinggal di perumahan sebelum benar-benar tanah gerak merusak rumah warga," ujarnya, Minggu (8/3/2026).
1. Rumah didirikan pada daerah perbukitan dengan tanah berkapur

Ribut menjelaskan, rumah yang terdampak sejauh ini berada di bagian bawah kawasan perumahan. Hal itu karena lokasi perumahan berada di daerah perbukitan dengan kondisi tanah yang labil. Saat musim kemarau, tanah di kawasan tersebut cenderung retak-retak, sedangkan pada musim penghujan tanah menjadi jenuh oleh air sehingga memicu terjadinya pergerakan tanah.
"Kita khawatir juga rumah yang berada dibawah tanah yang gerak tersebut akan mengalami hal yang sama. Apalagi puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir bulan Maret ini. Itu kan kawasan perbukitan kapur," ungkapnya.
2. Pengembang perumahan bertanggung jawab atas kejadian tanah gerak

BPBD Bantul bersama tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga telah mendatangi kawasan perumahan yang terdampak tanah gerak untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya peristiwa tersebut.
"Untungnya rumah yang terdampak ini masih banyak kosong dan tidak ditinggali warga sehingga dipastikan tidak ada korban jiwa," tandasnya.
Di sisi lain, Ribut mengungkapkan pengembang perumahan telah berkomitmen menurunkan ekskavator. Alat berat tersebut rencananya digunakan untuk membuka saluran air yang menggenang di kawasan perumahan itu.
"Lalu untuk penghuni rumah yang terdampak akan diselesaikan oleh pengembang. Kenapa? Karena belum ada serah terima fasum (fasilitas umum) dengan kabupaten sehingga secara hukum belum jadi tanggung jawab Kabupaten," ujarnya.
3. Tanah gerak berlangsung dua kali akibat intensitas hujan yang tinggi

Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, menyebut pergerakan tanah di Perumahan Taman Semesta Asri, Padukuhan Guwo, terjadi dua kali. Selain pada pekan lalu, tanah di lokasi tersebut juga kembali bergerak pada akhir Februari dengan penurunan sekitar lima hingga 10 sentimeter.
"Ini yang kami khawatirkan itu nanti kalau turunnya itu berdampak ke rumah yang bawah, itu kan nanti bisa berakibat yang fatal nanti kalau longsornya itu semua," jelasnya.
Anjar menambahkan, hingga saat ini penghuni rumah yang terdampak belum mengungsi ke tempat lain. Hal itu dilakukan agar penghuni dapat segera melaporkan jika sewaktu-waktu terjadi pergerakan tanah kembali.
"Sampai sekarang belum ada penanganan, kami hanya menyampaikan ke warga masyarakat sama yang menempati di situ untuk setiap saat waspada," ujarnya.


















