Purbaya Mengaku Tak Masalah Gaji Menteri Dipotong: Sudah Kegedean

- Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi santai wacana pemotongan gaji menteri dan menyebut nominal gaji saat ini sudah cukup besar, sehingga tidak masalah jika dipangkas demi efisiensi anggaran.
- Hingga kini pemerintah belum memutuskan pemangkasan anggaran atau kenaikan harga BBM bersubsidi karena APBN masih mampu menahan dampak fluktuasi harga minyak dunia.
- Presiden Prabowo menyoroti langkah efisiensi di Pakistan, termasuk pemotongan gaji pejabat dan penghematan operasional, serta meminta para Menko mengkaji penerapan efisiensi serupa di Indonesia.
Yogyakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons santai wacana pemotongan gaji menteri yang mengemuka sebagai upaya menghemat anggaran di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Purbaya menyebut gaji menteri secara nominal sudah cukup besar, sehingga ia tak mempermasalahkan jika gaji menteri nantinya benar-benar dipangkas.
"Ya nggak apa-apa kalau menteri gajinya dipotong, sudah kegedean juga," kata Purbaya usai meninjau Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (17/3/2026).
1. Belum ada pemangkasan apa pun
Bagaimanapun, Purbaya memastikan jika sampai sekarang ini Pemerintah RI belum melakukan langkah pemangkasan apa pun terkait situasi Timur Tengah, termasuk akibat lonjakan harga minyak dunia.
Purbaya billang, pemerintah saat ini masih memonitor perkembangan harga minyak dunia.
"Pemangkasan belum ada, belum ada keputusan memangkas anggaran. Kita sedang melakukan exercise terus melihat perkembangan harga minyak dunia seperti apa," ujarnya.
2. APBN masih kuat jaga BBM

Dalam kaitan fluktuasi harga minyak dunia, Purbaya juga menegaskan belum adanya rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.
Alasannya, lanjut Purbaya, pemerintah mengoptimalkan fungsi APBN sebagai penyerap guncangan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga minyak dunia.
"Jadi sampai sekarang yang absorb adalah APBN pemerintah. Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan untuk harga BBM, karena kita punya uang masih cukup untuk level harga BBM yang sekarang," kata Purbaya.
Ia menekankan, pemerintah menghitung asumsi harga minyak dalam APBN berdasarkan rata-rata dalam satu tahun penuh. Sementara, lonjakan harga minyak dunia per hari ini masih dalam batas antisipasi.
"Kalau segini aja mah kalau Pak Presiden mau sampai akhir tahun juga bisa, nggak ada masalah. Jadi saya punya uang cukup banyak yang masih bisa dipakai, yang pengamat-pengamat itu nggak tahu uangnya di mana," ujar Purbaya.
3. Prabowo singgung pemotongan gaji di negara lain dan minta menko kaji efisiensi
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyinggung langkah yang ditempuh pemerintah Pakistan dalam mengantisipasi perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Salah satunya, upaya pemotongan gaji anggota kabinet dan parlemen di negaranya.
Prabowo mengatakan ikhtiar ini dilakukan dalam rangka membantu kelompok paling rentan dalam menyikapi situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu.
"Mereka bahkan mengurangi gaji untuk anggota kabinet, untuk anggota DPR, ada semua penghematan gaji ini dikumpulkan untuk membantu kelompok yang paling rentan atau kelompok yang paling lemah, mereka memotong semua ketersediaan BBM untuk semua kementerian dan mereka mewajibkan 60 persen kendaraan pemerintah untuk tidak digunakan setiap saat," tuturnya.
Prabowo juga menyinggung langkah pemerintah Pakistan yang juga menghentikan semua belanja AC, kendaraan, pembelian mebel dalam kurun waktu yang tidak ditentukan.
Sekolah di Pakistan pun kata dia, dilakukan secara daring. Sebagai perbandingan, Prabowo menyinggung APBN juga bisa digunakan secara efisien.
"Ini saya minta dibicarakan nanti ya, mungkin oleh Menko-Menko nanti, berapa hari ini kita lihat, kita pikirkan, dulu kita atasi COVID berhasil kita dan kita mampu, banyak bekerja dari rumah, efisiensi, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar," ujar dia.

















