Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polisi Duga Korban Kekerasan di Daycare Jogja hingga Puluhan Anak
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol. Riski Adrian. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

  • Polresta Yogyakarta mengungkap dugaan kekerasan terhadap sekitar 53 anak di Daycare Little Aresha, dengan kemungkinan jumlah korban bertambah karena tempat tersebut sudah lama beroperasi.
  • Sebagian besar korban merupakan anak di bawah usia dua tahun yang mengalami perlakuan tidak manusiawi seperti tangan dan kaki diikat, terungkap setelah adanya kecurigaan dari masyarakat dan orangtua.
  • Salah satu orangtua menyebut pola asuh di daycare sangat keliru, termasuk bayi dibedung seharian, anak diikat agar tak bergerak, serta laporan kegiatan dan makanan yang ternyata palsu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Polresta Yogyakarta mengungkapkan terdapat puluhan anak yang menjadi korban tindak kekerasan di Daycare Little Aresha yang terletak di Jalan Pakel Baru Utara Nomor 27, Sorsutan, Umbulharjo, Yogyakarta.

Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol. Riski Adrian, menduga jumlah korban kemungkinan dapat bertambah lantaran daycare ini sudah beroperasi lama.

“Kalau jumlah semua anak (di Daycare Little Aresha) kita lihat itu ada 103, tapi kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya itu, sekitar 53 orang. Pasti (bisa berkembang). Kalau memang ada pengembangan di kasus ini pasti kita kejar ujar Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol. Riski Adrian, Sabtu (25/4/2026).

1. Anak-anak alami tindak kekerasan yang tidak manusiawi

Daycare Little Aresha, di Jalan Pakel Baru Utara Nomor 27, Sorsutan, Umbulharjo, Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kompol. Adrian menyebut anak-anak tersebut mengalami tindak kekerasan dan tindakan lain yang tidak manusiawi.

“Petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” ungkapnya.

2. Rata-rata anak di bawah 2 tahun alami kekerasan

Daycare Little Aresha, di Jalan Pakel Baru Utara Nomor 27, Sorsutan, Umbulharjo, Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kompol. Adrian mengatakan awal mula kasus ini terungkap terdapat kecurigaan dari masyarakat. Selain itu, ada orangtua yang mengatakan ketika mengantar anaknya, sang anak menangis.

“Orangtua ada juga yang menjelaskan seperti itu. Ada yang waktu diantar ketakutan anaknya. Namun, mungkin orangtua belum kepikiran seperti itu. Belum kepikiran oh anak aku ini ketakutan,” jelasnya.

Ia menambahkan anak-anak yang mengalami tindak kekerasan tersebut rata-rata di bawah usia dua tahun.

3. Keterangan salah satu orangtua

Orang tua dari anak Daycare Little Aresha, di Polresta Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Salah satu orang tua, S mengatakan treatment yang diterima anak-anak tidak manusiawi. Video yang diterima dari kepolisian ada pola asuh yang keliru. “Contoh yang paling terlihat ada bayi usia dua sampai empat bulan itu dibedung hampir sepanjang hari dan dibuka waktu mau makan. Ada juga anak usia 1,5 tahun diikat di gagang pintu biar gak lari-lari. Ada juga pemberian makan tidak sesuai,” ujar S. 

Tidak hanya itu, ada juga anak-anak yang tidur dengan kondisi kaki diikat. Setelah melihat langsung kondisi daycare tersebut, ia mengatakan antara jumlah kasur dan anak tidak sesuai. “Yang di video itu benar, anak-anak banyak tidur di lantai,” ujarnya.

S juga menceritakan awalnya tertarik menitipkan anaknya di Daycare Little Aresha, karena promosi fasilitas yang lengkap. Namun, saat ingin mengecek, orangtua dibatasi aksesnya. “Alasannya area steril. Kami positive thinking-nya adalah mungkin anak-anak tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, yang bisa membawa virus dan lainnya,” ucapnya.

Orangtua hanya menerima laporan harian kegiatan motorik anak. Namun, setelah ditelusuri foto yang dikirim ke orangtua hanya settingan. Soal makanan anak-anak juga tidak diperhatikan oleh pihak daycare.

“Saya pribadi sebagai orangtua, setiap hari memberikan makan dengan gizi yang cukup. Ternyata informasi yang kami terima, diduga makanan tersebut dimakan oleh pengasuhnya. Karakter anak saya itu sulit makan, tapi kok selalu habis dari laporan teks itu,” ungkapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team