Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menyebut sektor pertanian sebagai salah satu dari tiga sektor ekonomi strategis di wilayahnya, bersama industri dan pariwisata. Ia mengatakan pertanian memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
"Di mana sektor pertanian ini memberikan kontribusi PDRB kedua setelah sektor industri. Berarti sektor pertanian di Bantul ini telah memberikan kesejahteraan yang signifikan terhadap mayoritas warganya," kata Halim.
Menurut Halim, peningkatan produksi pertanian Bantul terjadi di tengah kecenderungan penyusutan luas lahan sawah. Ia mencontohkan produksi beras yang mengalami surplus 50 ribu ton pada 2024 dan meningkat menjadi 70 ribu ton pada 2025.
"Dengan demikian, maka bisa kita simpulkan bahwa intensifikasi mulai dari pemilihan benih, pemilihan pupuk, mekanisasi, elektrifikasi, bahkan hari ini sudah kita mulai digitalisasi, itu terbukti mampu meningkatkan produktivitas per satuan lahannya," katanya.
Dalam agenda panen raya bawang merah di Parangtritis, Abdul Halim juga menyoroti besarnya potensi komoditas tersebut. Luas panen mencapai 200 hektare dengan produksi 21 ton per hektare atau lebih dari 4 ribu ton bawang merah.
Jika harga bawang merah di tingkat petani mencapai Rp18 ribu per kilogram, nilai penjualan dari hasil panen tersebut diperkirakan mencapai Rp72 miliar.
Namun, di balik capaian tersebut, Abdul Halim menilai masih terdapat kebutuhan infrastruktur dan sarana produksi yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat.
"Ada beberapa aspirasi dari petani yang menurut kami, pemerintah daerah, ini masuk akal," tegas Halim.
Salah satu yang didorong adalah pembangunan tanggul dan penyediaan alat berat untuk mengatasi genangan air rob yang berdampak terhadap lahan bawang merah dan cabai di kawasan Parangtritis.
"Di antaranya adalah untuk mengatasi rob tahunan yang itu berdampak pada produktivitas bawang merah dan cabai merah di kawasan Parangtritis ini, yaitu kita memerlukan tanggul. Tanggul dan alat berat yang bisa mengatasi tergenangnya air rob itu pada hamparan ladang bawang merah kita," katanya.
Selain persoalan air, Pemkab Bantul juga mendorong kemandirian benih bawang merah untuk menekan biaya produksi.
"Kemudian ada usulan bahwa sudah saatnya kita swasembada benih, agar dapat dikurangi biaya produksi pertanian bawang merah kita dengan swasembada benih bawang merah itu. Jadi kita memerlukan instalasi pembenihan bawang merah," tambah Halim.
Bagi petani, tingginya produktivitas belum sepenuhnya menghilangkan persoalan di tingkat usaha tani. Karena itu, berbagai aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian Kementerian Pertanian, terutama terkait infrastruktur pertanian, alsintan, pupuk, fasilitas penyimpanan, teknologi, hingga kemandirian benih.
Di sisi lain, capaian produksi bawang merah Bantul menunjukkan bahwa dukungan terhadap petani dapat menghasilkan produktivitas sekaligus memberikan dampak ekonomi yang besar bagi daerah. Halim menegaskan apresiasinya terhadap para petani yang terus meningkatkan produksi bawang merah.
"Bawang merah Bantul ini terbukti hebat, diminati oleh para konsumen, dan bisa diserap oleh pasar kita," pungkasnya.