Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengembang di Jogja Sulit Bangun Rumah Subsidi, Ini Kendalanya
Launching Grand Vista Sidoarum, Sabtu (2/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Pengembang di Yogyakarta kesulitan membangun rumah subsidi karena lahan terbatas dan harga tanah tinggi, membuat mereka lebih memilih fokus ke proyek perumahan komersial.
  • Lebih dari 90 persen developer DIY kini menggarap segmen komersial yang dinilai lebih menguntungkan serta berkontribusi besar terhadap pendapatan daerah.
  • Asosiasi properti mengingatkan masyarakat agar memilih proyek dengan legalitas jelas, sementara pengembang menghadirkan hunian modern seperti Grand Vista Sidoarum dengan fasilitas lengkap di lokasi strategis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Pengembang properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan perumahan rakyat, khususnya rumah subsidi. Keterbatasan lahan dan tingginya harga tanah membuat developer memilih ke pembangunan perumahan komersial.

Wakil Ketua Bidang Hukum dan Perlindungan Anggota DPD Real Estate Indonesia (REI) DIY, Welly Luxza Pradana, mengungkapkan minimnya pembangunan rumah subsidi di Jogja bukan karena kurangnya komitmen pengembang. Menurutnya, faktor utama adalah semakin terbatasnya lahan serta harga tanah yang tidak lagi mampu menutup skema rumah subsidi.

“Untuk di Jogja, rumah subsidi memang sedikit sekali. Itu bukan karena developer tidak mau mengerjakan, tapi karena ketersediaan lahan yang sudah terbatas dan harganya tidak mengcover untuk rumah subsidi,” ujar Welly, disela Launching Grand Vista Sidoarum, Sabtu (2/5/2026).

1. Developer pilih segmen komersial

Launching Grand Vista Sidoarum, Sabtu (2/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Welly menyebutkan, kondisi ini membuat sebagian besar developer di Jogja lebih memilih menggarap segmen komersial. Bahkan, lebih dari 90 persen pengembang kini fokus pada perumahan komersial dibandingkan subsidi.

“Di Jogja memang komersialnya sangat tinggi. Lebih dari 90 persen developer bermain di komersial. Sebetulnya yang komersil ini yang menyumbang PAD lebih banyak. Jadi kalau kita bicara sumbangsih kepada pemerintah, itu juga menjadi sumbangsih,” tambahnya.

Welly menilai sektor properti tetap memiliki prospek yang cukup stabil di tengah kondisi ekonomi saat ini. Kebutuhan masyarakat akan hunian sekaligus investasi dinilai masih menjadi faktor pendorong permintaan.

“Properti memang tidak terlalu terpengaruh, meski ada sedikit penurunan. Tapi kebutuhan orang untuk tempat tinggal dan investasi itu tetap ada, sehingga optimisme harus dijaga,” jelasnya.

2. Asosiasi ingatkan pilih properti yang meyakinkan

Launching Grand Vista Sidoarum, Sabtu (2/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Di sisi lain, pengembang dituntut lebih kreatif dalam menarik minat konsumen, termasuk menghadirkan produk yang lebih siap huni dan dilengkapi fasilitas pendukung. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat di tengah kasus penipuan properti di Jogja.

“Kita tidak bisa tutupi bahwa hal itu bisa terjadi karena dua hal. Pertama adalah iming-iming harga yang terlalu murah. Pastikan legalitasnya, pastikan tergabung dalam asosiasi, sehingga kitab bisa memantau,” ungkap Welly.

3. Kembangkan unit di lokasi strategis

Fasilitas di Grand Vista Sidoarum, Sabtu (2/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Salah satu contoh pengembangan komersial ditunjukkan adalah proyek Grand Vista Sidoarum di Godean, Sleman, yang dikembangkan PT Graha Tantra Sentosa. Owner perusahaan, Willy Tanama Putra, mengatakan proyek tersebut menghadirkan 37 unit rumah dengan tiga tipe, yakni Sapphire, Ruby, dan Emerald, dengan harga mulai Rp1,55 miliar.

“Kami mengusung konsep modern tropical yang sesuai dengan karakter Yogyakarta, dekat dengan alam tapi tetap strategis,” ujar Willy.

Editorial Team