Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kiprah Besar Dr. Sardjito, Pahlawan yang Diabadikan Jadi Nama RS
Potret Prof. Dr. M. Sardjito (commons.wikimedia.org/Kemensos RI)
  • Dr. Sardjito lahir di Magetan tahun 1889, menempuh pendidikan di STOVIA, dan menjadi dokter lulusan terbaik yang kemudian mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
  • Ia menemukan berbagai vaksin penyakit tropis seperti kolera dan tifus, menciptakan obat murah bagi rakyat, serta menggagas pendirian rumah sakit pendidikan yang kini dikenal sebagai RSUP Dr. Sardjito.
  • Sebagai rektor pertama UGM dan pemimpin UII, Dr. Sardjito memajukan dunia pendidikan tinggi Indonesia dengan menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan memperluas akses fakultas di berbagai daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Dr Sardjito mungkin sudah tak asing lagi, terutama bagi masyarakat Yogyakarta. Sosoknya diabadikan menjadi nama rumah sakit pusat milik pemerintah di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, kiprahnya ternyata jauh lebih besar dari sekadar nama sebuah rumah sakit.

Dr Sardjito dikenal sebagai rektor pertama UGM sekaligus ilmuwan yang berjasa dalam pengembangan vaksin dan obat-obatan untuk masyarakat Indonesia. Dedikasinya di bidang kesehatan dan pendidikan bahkan membuatnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2019.

1. Masa kecil Prof. Dr. M. Sardjito

Foto murid-murid STOVIA - Flickr/Markus Ziller

Di desa Purwodadi, Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1889, Sardjito lahir. Dia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat di tempatnya tinggal dan melanjutkan ke sekolah Belanda hingga selesai pada tahun 1907.

Setelah selesai sekolah, Sardjito melanjutkan pendidikan tinggi di sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) hingga lulus di tahun 1915 dengan menjadi lulusan terbaik dan mendapat gelar dokter.  Di STOVIA, keinginan kuat Sardjito untuk lebih berkecimpung dalam dunia kesehatan dimulai.

2. Penemu sejumlah vaksin dan obat-obatan

RSUP Dr. Sardjito (Dok. Sardjito.co.id)

Setelah menamatkan pendidikan di STOVIA, Sardjito bekerja menjadi dokter di rumah sakit Jakarta selama 1 tahun dan melanjutkan pengabdiannya untuk dunia kesehatan dengan kembali menjadi dokter di Institut Pasteur Bandung. Di  tempat itu, Sardjito melakukan penelitian penyakit influenza yang saat itu tengah menjadi penyakit yang meresahkan masyarakat Indonesia. Sardjito juga sudah meneruskan pendidikan kedokterannya ke universitas di kota Amsterdam hingga melakukan pelatihan hygiene di Amerika Serikat. 

Sardjito menemukan vaksin-vaksin penyakit tropis yang kala itu melanda Indonesia seperti vaksin kolera, disentri, hingga tifus. Selain itu, Sardjito juga menemukan obat penyakit batu ginjal dan penurun kolesterol. Sardjito menginginkan obatnya dijual murah agar banyak rakyat Indonesia yang terkena penyakit bisa diobati.

Selain itu Sardjito juga menciptakan makanan khusus berupa biskuit yang padat kalori dan nutrisi untuk ransum tentara Indonesia .

Sardjito memiliki gagasan untuk mendirikan sebuah rumah sakit umum yang berdekatan dengan tempat pendidikan agar calon dokter dan dokter ahli lebih mudah mendapatkan pendidikan dan melakukan penelitian. Pada akhirnya untuk mengenang jasa-jasa beliau, rumah sakit di sebelah barat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyajarta diberi nama RSUP Prof. Dr. Sardjito.

3. Dr. Sardjito menjadi rektor pertama UGM

Potret Prof. Dr. M. Sardjito (Dok. Arsip UGM)

Sardjito dikenal sebagai tokoh multitalenta yang tak hanya berjasa di dunia kesehatan, tetapi juga pendidikan. Ia tercatat sebagai perintis sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1950–1961. Sardjito juga menjadi pelopor pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya di UGM, Sardjito menjadi rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 1963. Selama sekitar tujuh tahun memimpin UII, ia berhasil membawa Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum UII memperoleh status disamakan dari pemerintah. Ia juga membuka Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran, serta memperluas jaringan UII dengan membuka fakultas cabang di berbagai kota di Indonesia. Selama menjabat rektor UII, Sardjito disebut tidak menerima gaji.

Nama Sardjito kemudian diabadikan menjadi nama gedung kuliah umum di kampus terpadu UII Yogyakarta. Ia meninggal dunia pada usia 80 tahun saat masih menjabat sebagai rektor UII.

Dedikasi Dr Sardjito menunjukkan bahwa perjuangan untuk bangsa tak selalu dilakukan di medan perang. Melalui dunia kesehatan dan pendidikan, ia memberi kontribusi besar bagi masyarakat Indonesia, mulai dari pengembangan vaksin hingga pembangunan perguruan tinggi.

Hingga kini, nama dan gagasannya masih dikenang lewat UGM maupun RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta. Sosoknya menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan bisa menjadi bagian penting dalam perjuangan bangsa.

Editorial Team

Related Article