ilustrasi makam (unsplash.com/CA Creative)
Petra kemudian menyampaikan informasi yang diperolehnya kepada Polsek Wirobrajan. Tidak lama setelah itu, petugas piket mengabarkan bahwa juru kunci sudah berada di kompleks makam dan Petra kembali ke sana didampingi lima hingga enam anggota kepolisian.
Di tempat tersebut, ia bertemu langsung dengan juru kunci yang disebut mengakui telah merusak nisan makam ayahnya.
"Juru kuncine ibu-ibu, terus bilang begini, "Ini kalau makam tidak saya beginikan anda juga nggak akan mencari saya kan', gitu," kata Petra.
Petra mengaku tidak memahami alasan juru kunci melakukan tindakan tersebut. Setelah berbicara lebih lanjut, ia menduga persoalan bermula karena dirinya selama ini tidak pernah memberikan upah kepada juru kunci.
Kata Petra, juru kunci ini biasanya bertemu para peziarah atau ahli waris makam saat pagi hari.
Sementara, Petra menyebut dirinya belum pernah bertemu dengan juru kunci tersebut. Ia biasanya datang ke makam hanya pada waktu-waktu tertentu. Seperti saat lebaran atau ruwahan. Setahun bisa dihitung dengan jari berapa kali ia ziarah.
Saat Selasa kemarin, Petra mengunjungi makam bertepatan dengan hari ulang tahun dirinya. Ia mengatakan baru beberapa waktu terakhir bisa berziarah pada pagi hari. Kesibukan pekerjaan membuatnya jarang datang pada hari tersebut, sementara kegiatan di gereja juga membuatnya sulit berkunjung di akhir pekan.
"Terus ya saya bilang, ya sudah sekarang utang saya berapa, saya sampai begitu ya. Kalau dianggap hutang, utangku berapa," katanya.
Menurut Petra, juru kunci tidak memberikan nominal pasti. Ia juga mengatakan makam tersebut tidak memiliki biaya sewa.
Petra menyebut makam ayahnya menjadi makam pertama yang ia ketahui dirusak oleh juru kunci tersebut. Namun, berdasarkan cerita yang didengarnya, sebelumnya pernah ada makam yang dibongkar karena pihak keluarga tidak memberikan uang kepada juru kunci.