Limbah SPPG Diduga Cemari Air Sumur Milik Warga Mangiran Bantul

- Warga Mangiran Bantul mengeluhkan air sumur berbusa dan berbau tidak sedap sejak awal April 2026, diduga akibat limbah cair dari IPAL milik SPPG yang beroperasi di dekat permukiman.
- Selain Agus, warga lain bernama Dayat juga mengalami pencemaran air sumur sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari meski sudah melapor ke berbagai pihak terkait.
- Pihak SPPG mengaku bertanggung jawab dan sepakat membangun sumur bor baru bagi warga terdampak setelah musyawarah bersama Forkompimkap, meski penyebab pasti pencemaran masih belum dijelaskan secara rinci.
Bantul, IDN Times - Sumur milik warga di Mangiran, Padukuhan Sapuangin, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam hampir satu bulan terakhir. Air sumur diduga tercemar limbah cair dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut.
Salah satu warga, Agus Indriyanto (55), mengatakan selama 30 tahun tinggal di Mangiran, air sumurnya tidak pernah bermasalah. Namun sejak SPPG yang berada di samping rumahnya mulai beroperasi pada awal Ramadan, kondisi air berubah.
"Sekitar awal bulan April 2026 air sumur ketika akan digunakan melalui kran air dan ditampung di ember timbul busa dan air sumur mengeluarkan bau tidak sedap," katanya, Kamis (30/4/2026).
1. Air sumur berbusa dan muncul bau tidak sedap

Agus mengaku sejak awal April tidak lagi menggunakan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari karena berbusa dan berbau. Ia terpaksa membeli air galon untuk memasak dan minum, sementara kebutuhan mandi dan mencuci dilakukan di tempat lain.
"Untuk masak dan air minum saya terpaksa membeli air galon setiap harinya. Sedangkan untuk mandi hari ke rumah saudara yang jaraknya hampir satu kilometer dari rumah. Sedangkan untuk mencuci pakaian kadang ke tetangga yang air sumur tidak tercemar limbah atau dibawa ke laundry," tandasnya.
Ia menyebut persoalan tersebut telah disampaikan ke pihak SPPG sejak pertengahan April, namun tidak mendapat respons. Agus kemudian melapor ke Koramil, Polsek Srandakan, Puskesmas, hingga Kapanewon Srandakan, yang kemudian ditindaklanjuti Forkompimkap dengan mendatangi rumahnya pada Rabu (28/4/2026).
Namun, ia menilai solusi yang diberikan belum menyelesaikan masalah karena hanya berupa pinjaman penampungan air bersih dari BPBD Bantul yang belum bisa dimanfaatkan.
"Dari pihak SPPG tidak pernah memberi kompensasi kerugian dan hanya membantu membelikan dua galon air untuk kebutuhan masak dan minum. Padahal saya juga menguras sumur dengan biaya Rp250 ribu dengan harapan air sumur tidak lagi tercemar namun usai dikuras air sumur tetap tercemar dan pihak SPPG juga tidak memberi ganti rugi pengurasan sumur," tandasnya.
"Yang lebih parah lagi Kapanewon Srandakan minta saling mengerti terkait keberadaan SPPG agar tetap beroperasi," tambahnya.
2. Sumur milik warga lainnya airnya juga tercemar limbah

Agus menambahkan selain sumurnya, satu sumur milik warga lain, Dayat, yang berada di belakang SPPG juga mengalami pencemaran dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di rumah tersebut diketahui dihuni tujuh orang.
"SPPG hanya janji memberi kompensasi dengan membangunkan sumur di lokasi lain namun masih satu pekarangan rumah. Tapi saya juga tidak menjamin sumur baru tersebut airnya akan bebas dari pencemaran," tandasnya.
3. SPPG janji bertanggungjawab atas air sumur warga yang tercemar limbah

Kepala SPPG Trimurti Srandakan #004, M. Fauzan, mengatakan pihaknya telah melakukan musyawarah dengan warga terdampak yang difasilitasi Forkompimkap. Dalam pertemuan tersebut, disepakati pembangunan sumur bor bagi warga yang sumurnya terdampak limbah.
"Pastinya kita tetap bertanggung jawab," katanya.
Terkait dugaan pencemaran akibat instalasi pengolahan air limbah (IPAL), Fauzan mengaku tidak mengetahui secara rinci proses pembangunannya. Namun, ia menyebut kemungkinan pencemaran berasal dari limbah IPAL SPPG.
"Ya ada sumur resapan kemudian ada saringannya sehingga yang meresap ke tanah hanya airnya saja," ucapnya.


















