Joko menjelaskan proses penyebaran kasus positif di salah satu Ponpes Ngaglik, berawal dari satu santri yang merasakan gejala anosmia pada tanggal 11 September 2020. Beberapa hari kemudian santri yang bersangkutan berobat dan membaik. Namun pada tanggal 22 September 2020, kembali merasakan sakit. Dokter yang memeriksa mencurigai santri terkena COVID-19. Kecurigaan menguat setelah beberapa santri merasakan hal yang sama.
Setelah dilakukan rapid test terhadap 122 santri, 45 di antaranya dinyatakan reaktif. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan pemeriksaan diswab diketahui 41 santri positif COVID-19 pada Senin (28/9/2020) malam.
"Pada Senin malam diinformasikan dari laboratorium dari 45 santri 41 di antaranya positif. Kami masih melakukan tracing. Sampai hari ini terus tracing dan belum bisa mengetahui hasilnya," ungkapnya pada Rabu (30/9/2020). Hingga hari ini tracing di ponpes dilakukan terhadap 222 orang.
Tak hanya satu ponpes di Ngaglik yang diketahui penghuninya terkena COVID. Joko menjelaskan kasus positif COVID-19 di ponpes Ngaglik lainnya, berasal dari salah satu penghuni yang diketahui positif COVID-19 pada Senin (29/9/2020). Hingga saat ini belum diketahui hasil tracing.