Kasus DBD di DIY 2024 Capai 1.214, Gerakan Masyarakat Belum Optimal

- Kasus DBD di DIY tahun 2024 naik dibanding tahun sebelumnya, mencapai 1.214 kasus dari Januari-14 Mei 2024.
- Perubahan cuaca dan kebiasaan masyarakat menjadi penyebab peningkatan kasus DBD, dengan kurang optimalnya gerakan pemberantasan sarang nyamuk.
- Menggiatkan kembali Gerakan 3M Plus dan G1R1J serta kesadaran masyarakat dalam PHBS menjadi langkah efektif untuk mencegah DBD.
Yogyakarta, IDN Times - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tahun 2024 mengalami peningkatan jika dibanding tahun 2023. Perubahan cuaca hingga kebiasaan masyarakat menjadi penyebabnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY pada tahun 2024 dari Januari-14 Mei 2024 tercatat 1.214 kasus. "Mengalami peningkatan jika dibanding tahun 2023, sampai akhir tahun 2023 tercatat 703," ujar Kepala Dinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie, Kamis (16/5/2024).
1. Faktor penyebab meningkatnya DBD

Pembajun menyebut faktor penyebab peningkatan kasus DBD di tahun 2024 disebabkan, pertama perubahan cuaca. "Tahun sebelumnya kemarau panjang, sangat sedikit curah hujannya, 2024 mulai banyak curah hujannya," ujar Pembajun.
Selain itu, kebiasaan untuk 3M plus (Menguras, Menutup dan Mendaur ulang Barang Bekas) yang diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan untuk pemberantasan sarang nyamuk, serta Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), belum optimal. "Belum menjadi sebuah budaya dan sebuah gerakan," kata Pembajun.
Pembajun juga menyinggung kesadaran masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) belum merata di semua wilayah. Ada yang sudah baik terbukti dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) yang sudah >95 persen di banyak wilayah, tetapi masih ada kapanewon-kapanewon yang ABJ nya bahkan <60 persen.
2. Langkah efektif yang bisa dilakukan

Pembajun mengungkapkan langkah paling efektif untuk mencegah DBD sebenarnya bisa dengan menggiatkan kembali Gerakan 3M Plus. Gerakan ini juga perlu didukung oleh semua sektor, disemua tatanan instansi dan masyarakat.
"Sedangkan untuk masyarakat dengan menggiatkan kembali G1R1J, karena terbukti di wilayah yang ABJ>95 persen, tidak ada kasus, kalaupun ada kasus, hasil audit menunjukkan kemungkinan tertular di tempat lain. Terbukti di daerah yang ABJ <60 persen, <70 persen, kasusnya sangat tinggi," kata Pembajun.
3. Perlu dukungan semua pihak untuk cegah DBD

Pembajun menegaskan gerakan-gerakan seperti 3M Plus tersebut sangat relevan dilakukan, tetapi memang harus menjadi gerakan serentak dan bersama-sama, didukung semua pihak. Pasalnya jika hanya sebagian yang melakukan, dan ada sebagian kecil saja yang tidak melakukan, tetap menjadi peluang penularan.
Sementara untuk fogging hanya bisa dilakukan dengan kriteria tertentu, mengingat kegiatan ini juga memiliki efek samping adanya resistensi. "Kriterianya antara lain, ada kasus positif, ditemukan suspek dan ditemukan jentik >=5 persen," jelas Pembajun.




















