Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nol Koma #1 Bangkitkan Kembali Malioboro sebagai Ruang Kreatif

Nol Koma #1 Bangkitkan Kembali Malioboro sebagai Ruang Kreatif
Jumpa pers gelaran 0, – Nol Koma #1 di Milli by Shaggydog, Senin (6/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
  • Gelaran O, – Nol Koma #1 di Titik Nol Kilometer Yogyakarta digelar untuk menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang budaya terbuka dan merawat ingatan kolektif lintas generasi.

  • Acara ini mempertemukan seniman senior dan muda melalui pertunjukan musik, pembacaan puisi, serta kolaborasi seni rupa dari berbagai komunitas sebagai bentuk regenerasi kebudayaan.

  • Salah satu agenda utama adalah peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta sebagai bagian dari program memorial budaya yang mendokumentasikan tokoh berpengaruh di Yogyakarta.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta akan menjadi ruang perjumpaan para seniman lintas generasi dalam gelaran O, – Nol Koma #1 bertajuk Ruang Awal, Ruang Bersama pada Jumat (10/7/2026). Acara yang digagas komunitas Malioboro Classical Jogja ini hadir sebagai upaya merawat ingatan kolektif sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang budaya yang terbuka bagi siapa saja.

“Bagi banyak kalangan seni dan budaya, Malioboro bukan sekadar kawasan wisata. Selama puluhan tahun, kawasan ini dikenal sebagai ruang tumbuh yang melahirkan penyair, musisi, pelukis, budayawan, hingga pemikir yang memberi warna bagi perjalanan kebudayaan Indonesia,” ucap Ketua Malioboro Classical, Seno Prawoto, di Milli by Shaggydog, Senin (6/7/2026).

1. Pengingat Malioboro menyimpan warisan sosial dan budaya

Wisatawan berada di kawasan Malioboro. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiansyah)
Wisatawan berada di kawasan Malioboro. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiansyah)

Malioboro disebut memiliki sejarah panjang sebagai ruang publik yang melahirkan banyak gagasan, karya seni, dan tokoh penting di bidang seni budaya. Karena itu, gelaran O, – Nol Koma #1 dirancang sebagai pengingat bahwa Malioboro tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan warisan sosial dan budaya yang perlu terus dirawat. 

Semangat tersebut berangkat dari posisi Jalan Malioboro yang merupakan bagian penting dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2023. Namun, kekuatan utama Malioboro tidak hanya terletak pada aspek fisik dan sejarah kawasan, melainkan pada tradisi perjumpaan, dialog, dan proses kreatif yang tumbuh di dalamnya.

“Malioboro bahkan kerap disebut sebagai ‘kampus jalanan’, tempat siapa saja dapat belajar tanpa batas latar belakang sosial maupun pendidikan formal. Dari ruang terbuka itu lahir berbagai pengalaman, jejaring, dan perspektif yang membentuk perjalanan banyak pelaku seni dan budaya,” ucap Seno.

2. Hadirkan kembali ruang ekspresi

WhatsApp Image 2026-07-06 at 19.51.46.jpeg
Jumpa pers gelaran O, – Nol Koma #1 di Milli by Shaggydog, Senin (6/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Melalui O, – Nol Koma #1, Malioboro Classical Jogja menghadirkan kembali ruang ekspresi yang mempertemukan pengalaman para seniman senior dengan energi generasi muda. Acara ini tidak hanya menjadi panggung apresiasi seni, tetapi juga ruang regenerasi kebudayaan. 

Sejumlah musisi yang akan tampil dalam gelaran tersebut, antara lain Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick, hingga Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro (KPJM).

Selain pertunjukan musik, acara ini juga menghadirkan pembacaan puisi dan sastra oleh Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik, dan Daniel Godan. Aktivitas seni rupa juga akan ditampilkan dan melibatkan berbagai komunitas dan seniman kolaborator.

3. Peresmian monumen Umbu Landu Paranggi

Malioboro (unsplash.com/Agto Nugroho)
Malioboro (unsplash.com/Agto Nugroho)

Steering Committee acara, Agus 'Dayak' Imron menyebut alah satu agenda utama dalam pembukaan O, – Nol Koma #1 nanti adalah peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Wali Kota Yogyakarta. Sosok yang dikenal sebagai "Presiden Malioboro" itu dipilih sebagai tokoh pertama dalam program memorial budaya yang digagas penyelenggara. “Adapun monumen real-nya dijadwalkan akan didirikan pada penyelenggaraan O, – Nol Koma #2 yang akan mengusung tema Merawat Jejak, Merajut Waktu,” kata Agus.

Monumen tersebut dirancang sebagai media dokumentasi dan pengenalan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan seni, budaya, dan kehidupan intelektual Yogyakarta. Selain memuat informasi dasar mengenai tokoh, monumen akan dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya, serta referensi terkait perjalanan hidup Umbu Landu Paranggi. Ke depan, program memorial budaya ini akan menghadirkan tokoh-tokoh lain yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan kebudayaan Yogyakarta.

Ia juga menjelaskan nama Nol Koma dipilih untuk menggambarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari titik kecil. Acara ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni dan budaya.

“Gelaran O, – Nol Koma #1 diharapkan dapat menjadi titik awal tumbuhnya kembali ruang dialog, ruang apresiasi, dan ruang kreatif yang selama ini menjadi denyut kehidupan Malioboro. Sebab, seni tidak hanya membutuhkan panggung, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan gagasan, karya, dan manusia bertumbuh bersama,” tutup Agus.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More