Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengulik Sejarah Sentra Gerabah Kasongan, Semuanya Hasil Warga Lokal

Mengulik Sejarah Sentra Gerabah Kasongan, Semuanya Hasil Warga Lokal
Ilustrasi sejarah gerabah kasongan di Bantul (wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)
Intinya Sih

  • Kasongan di Bantul dikenal sebagai sentra gerabah yang berawal sejak masa kolonial Belanda, dengan dua versi sejarah terkait asal mula para perajin tanah liat di wilayah tersebut.
  • Ciri khas gerabah Kasongan terletak pada teknik tempel turun-temurun dan bahan tanah lempung berwarna terakota, kini berkembang dengan desain modern serta tambahan hiasan mozaik elegan.
  • Hingga kini sekitar 80 persen warga Kasongan masih aktif membuat gerabah, dan hasil karya mereka sukses menembus pasar internasional hingga Asia, Eropa, serta Amerika.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kabupaten Bantul mempunyai beberapa desa kreatif yang warganya menghasilkan karya apik. Tak hanya diminati warga di Jogja, karya tangan kreatif dari Bantul menembus Eropa dan Amerika. Ada jaket kulit di Desa Manding, batik kayu Krebet, sampai gerabah di Kasongan.

Buat kamu yang mau datang sekaligus belajar bikin gerabah di Kasongan, yuk cari tahu dulu kisah asal-usulnya lewat ulasan berikut ini.

1. Sejarah kerajinan gerabah di Kasongan

Hasil Kerajinan Desa Kasongan (visitingjogja.com)
Hasil Kerajinan Desa Kasongan (visitingjogja.com)

Kerajinan gerabah kasongan berlokasi di Desa Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya tak terlalu jauh dari pusat Kota Jogja, hanya berkisar 7 kilometer atau 17 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. 

Mengutip laman Visiting Jogja, terdapat dua versia sejarah kerajinan gerabah di Kasongan, konon berawal dari seekor kuda milik reserse Belanda yang mati di tanah milik seorang warga pribumi. Takut dijatuhi hukuman oleh Belanda, sang pemilik tanah lantas merelakan kepemilikan hak tanahnya dan diikuti beberapa warga lain. Penduduk yang kehilangan tanah, akhirnya memulai kehidupan dengan mata pencaharian baru yaitu mengolah tanah liat menjadi mainan dan peralatan dapur.

Sedangkan laman Kementerian Hukum Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, sentra kerajinan gerabah di Kasongan dimulai sejak zaman kolonial Belanda, yaitu sekitar tahun 1800 oleh Kyai Guru Abdul Raup. Diketahui sosoknya adalah Ulama Ageng Pesantren Kasongan, sekaligus prajurit Pangeran Diponegoro.  Wilayah kasongan yang tandus, dikembangkan menjadi daerah para kudhi atau sebutan untuk perajin, yang membuat benda pecah belah dari bahan tanah liat. 

2. Ciri khas gerabah kasongan

potret workshop pembuatan gerabah di Kasongan (Instagram.com/gerabah_kasongan)
potret workshop pembuatan gerabah di Kasongan (Instagram.com/gerabah_kasongan)

Ciri khas kerajinan gerabah dari Kasongan adalah, penggunaan teknik tempel yang dilakukan secara turun menurun dengan keahlian tingkat tinggi. Selain itu, gerabah kasongan memiliki bahan baku berupa tanah lempung sehingga hasil gerabah berwarna teracota.

Semakin berkembangnya zaman, bentuk gerabah Kasongan kian modern baik dari segi jenis, bentuk, sampai finishing. Guci di Kasongan juga mengalami banyak penambahan finishing, misal mozaik atau hiasan potongan keramik yang disusun cantik sehingga menimbulkan kesan lebih lagi elegan. 

3. Gerabah masih dikerjakan oleh warga lokal

Pot bunga yang dijual oleh pengusaha gerabah di Kasongan Bantul. IDN Times/Daruwaskita
Pot bunga yang dijual oleh pengusaha gerabah di Kasongan Bantul. IDN Times/Daruwaskita

Hingga saat ini, pembuatan gerabah tetap menjadi komoditas unggulan yang ditekuni mayoritas masyarakat setempat, di mana sekitar 80 persen warga Kasongan aktif berkarya di industri ini.

Hadil industri rumahan ini pun sangat membanggakan, karena pemasaran gerabah Kasongan tidak hanya terbatas di wilayah Yogyakarta dan domestik saja, melainkan berhasil diekspor hingga ke negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jogja

See More