Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Efisiensi Anggaran, Permintaan Peralatan Marching Band Turun Drastis

ilustrasi drumband dan marching band
ilustrasi drumband dan marching band (pexels.com/Klub Boks)
Intinya sih...
  • Pengusaha peralatan marching band mengalami penurunan omzet hingga 50persen karena efisiensi anggaran pemerintah pusat.
  • Banyak pengusaha terpaksa banting usaha, mencari penghasilan lain, dan karyawan harus giliran kerja untuk bertahan hidup.
  • Permintaan peralatan marching band menurun drastis pada tahun 2025 hingga awal tahun 2026 akibat kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada pelaku UMKM.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Omzet pengusaha peralatan marching band turun hingga 50 persen. Penurunan ini diduga karena adanya kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat yang berdampak ke daerah.

Kondisi ini membuat sejumlah pengusaha peralatan marching band terpaksa mengurangi jumlah karyawan hingga menutup usahanya alias gulung tikar.

‎Salah satu pengusaha marching band asal Bekasi Jawa Barat, Iqbal Khambali mengatakan penjualan peralatan marching band pada tahun 2023 hingga 2024 terbilang moncer. Namun pada tahun 2025 diawali dengan adanya efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat membuat penjualan peralatan marching band yang pasar utamanya sekolah dasar (SD) hingga SMA sederajat menurun drastis.

‎"Pada tahun 2023-2024 setiap tahunnya saya mampu menjual sekitar 100 set peralatan marching band namun mulai tahun 2024 turun drastis hingga 50 persen bahkan awal tahun 2026 ini belum ada peralatan marching band yang laku terjual," ungkapnya, Sabtu (7/2/2026).

1. ‎ Untuk bertahan hidup pengusaha banting usaha

‎Salah satu pengusaha marching band asal Bekasi Jawa Barat, Iqbal Khambali (kiri).
‎Salah satu pengusaha marching band asal Bekasi Jawa Barat, Iqbal Khambali(kiri).(IDN Times/Daruwaskita)

Menurut Iqbal Khambali, dalam satu set peralatan marching band melibatkan banyak UMKM yang memproduksi komponen seperti perkusi, color guard, alat tiup hingga seragam. Akibat kondisi ini semuanya ikut terdampak. Bahkan saat ini, untuk bertahan hidup karena tidak ada permintaan harus mencari penghasilan lain menjadi tukang ojek hingga jualan kopi.

‎"Saya punya enam karyawan karena omzet sepi mereka harus giliran kerja agar tetap mendapatkan gaji. Kasihan juga kan kalau saya putus kerja," jelasnya.

‎2. Awal tahun pemesanan peralatan marching band sepi

Marching band Gita Dirgantara AAU meriahkan Harbubnas di Lapangan Trirenggo.(IDN Times/Daruwaskita)
Marching band Gita Dirgantara AAU meriahkan Harbubnas di Lapangan Trirenggo.(IDN Times/Daruwaskita)

Senada dengan pengusaha peralatan marching band dari Bantul, Iksan mengatakan pada tahun 2025 penjualan peralatan marching band menurun cukup tajam. Sampai awal tahun 2026 ini tidak ada lagi pemesanan peralatan marching band dari berbagai sekolahan mulai dari SD hingga SMA di Bantul.

‎"Biasanya awal tahun ada pesanan untuk dikirim pada pertengahan tahun untuk acara HUT Kemerdekaan RI, tapisampai hari ini sepi pemesanan," katanya.

3. ‎ Efisiensi anggaran berdampak pada pelaku UMKM

Ilustrasi anggaran
Ilustrasi anggaran (IDN Times/ Aditya Pratama)

Padahal, kata Iksan pada tahun 2023 atau 2024 pemesanan peralatan marching band cukup ramai pada awal tahun, meski pengiriman dilakukan menjelang bulan Agustus.

‎"Ya saya kira efisiensi anggaran dari pemerintah pusat bagus tujuannya namun ternyata kita juga terdampak. UMKM yang biasa memasok peralatan marching band juga terdampak," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Efisiensi Anggaran, Permintaan Peralatan Marching Band Turun Drastis

07 Feb 2026, 18:09 WIBNews