Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dugaan Perusakan Makam Mertua Djaduk Ferianto Berakhir Damai
ilustrasi makam (unsplash.com/CA Creative)
  • Polsek Wirobrajan memediasi dugaan perusakan makam ayah mertua mendiang Djaduk Ferianto di Pakuncen; Bernadetta Petra dan juru kunci S sepakat berdamai.
  • Kepala nisan yang diambil juru kunci telah dikembalikan dan dipasang kembali. Petra juga membayar uang kebersihan Rp500 ribu setelah persoalan dipicu keinginan juru kunci bertemu ahli waris.
  • Makam lama Pakuncen dikelola turun-temurun oleh warga setempat, berbeda dari makam Pakuncen baru milik Pemkot. Pemberian uang perawatan disebut sukarela tanpa nominal patokan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Polsek Wirobrajan melakukan mediasi untuk kasus dugaan perusakan makam ayah mertua Djaduk Ferianto oleh juru kunci di kompleks pemakaman lama Pakuncen, Kota Yogyakarta.

Alhasil, persoalan ini diklaim telah selesai. Kedua belah pihak terlibat, yakni istri mendiang Djaduk, Bernadetta Petra dan juru kunci berinisial S menyatakan sepakat damai.

Nisan sudah diperbaiki

Kapolsek Wirobrajan, Kompol Arif Darmawan, menuturkan mediasi antara ahli waris dan juru kunci makam telah selesai Rabu (13/8/2026) siang ini. Kedua pihak sepakat mengakhiri persoalan tersebut secara damai.

"Sudah selesai, mediasinya sudah selesai dan semuanya sudah buat kesepakatan berakhir dengan perdamaian, baik-baik semuanya," kata Arif saat dihubungi, Rabu.

Arif mengatakan, kepala nisan yang sebelumnya diambil juru kunci juga telah dikembalikan dan dipasang kembali seperti semula. "Sudah diperbaiki, sudah pulih seperti sedia kala," ujarnya.

Juru kunci ingin bertemu ahli waris makam

Arif menjelaskan, persoalan tersebut bermula karena juru kunci ingin bertemu dengan ahli waris. Namun, keduanya tidak pernah bertemu ketika ahli waris datang berziarah.

"Lha cuman ini dari juru kunci itu minta ini apa itu uang kebersihan, uang kebersihan. Cuman itu aja," ucapnya.

Uang kebersihan tersebut, lanjut Arif, telah dibayarkan oleh Petra. Pembayaran itu kemudian diikuti dengan kesepakatan damai dalam mediasi.

"Minta uang kebersihan aja dan kemarin sudah dibayarkan uang kebersihan itu, sudah dibayarkan. Terus ini buat diikuti dengan kesepakatan hari ini," jelasnya.

Makam dikelola turun temurun warga setempat

ilustrasi makam (Pixabay.com/congerdesign)

Soal status lahan makam lama Pakuncen, Arif mengaku tidak mengetahui secara pasti mengenai kepemilikannya. Namun, pengelolaan makam tersebut dilakukan oleh masyarakat setempat.

Ia menyebut masyarakat setempat turun-temurun mengurus makam lama tersebut. Hal ini berbeda dengan kompleks makam Pakuncen baru yang dikelola Pemerintah Kota Yogyakarta.

"Makam lama itu yang makam dulu, terus makam yang baru Pakuncen yang baru itu makam yang dikelola Pemkot itu toh. Lah itu yang bukan punya Pemkot," ujar Arif.

Sementara itu, juru kunci berinisial S disebut telah menjalankan tugas tersebut selama puluhan tahun. Tugas itu diteruskan dari orang tua dan kakeknya.

Arif mengatakan, pemberian uang dari peziarah kepada pihak yang mengurus kebersihan makam selama ini merupakan hal yang biasa dilakukan. Besarannya pun tidak dipatok dan diberikan secara sukarela.

Menurutnya, pihak ahli waris sebenarnya juga telah memberikan uang kepada sejumlah orang yang membantu membersihkan makam. Namun, pemberian khusus kepada juru kunci belum dilakukan karena tidak pernah bertemu.

"Tapi si ahli waris sebenarnya juga sudah itikadnya baik karena siapa yang berada di situ sing ngewangi resik-resik itu dikasih. Berapa orang dikasih," ungkapnya.

"Intinya cuman enggak pernah ketemu aja sama si itu, ketemunya sama yang anak buah yang bersih-bersih ini ketemune. Jadi sing dikasih itu itu itu, sing khusus untuk juru kunci untuk perawatan itu ora tau ketemu. Nah itu aja," pungkas Arif.

Makam ayah mertua Djaduk dirusak

Sebelumnya diberitakan, makam ayah mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di kompleks pemakaman lama Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, dirusak oleh juru kunci tempat pemakaman tersebut.

Kerusakan itu diketahui Bernadetta Petra, istri Djaduk, saat berziarah pada Selasa (11/8/2026) pagi. Petra kemudian berusaha mencari keberadaan juru kunci dan meminta informasi hingga ke kantor kelurahan.

Setelah melaporkan persoalan tersebut ke Polsek Wirobrajan, Petra kembali ke kompleks makam didampingi polisi dan bertemu dengan juru kunci berinisial S. Dalam pertemuan itu, S mengakui telah mengambil atau merusak bagian kepala nisan agar Petra mencari dan bertemu dengannya.

Petra menduga persoalan tersebut berkaitan dengan uang kebersihan atau perawatan makam yang selama ini belum pernah ia berikan langsung kepada juru kunci karena keduanya tidak pernah bertemu.

Petra kemudian memberikan Rp500 ribu kepada juru kunci sebagai pembayaran yang dianggap sebagai utang biaya kebersihan atau perawatan makam. Sementara biaya perbaikan nisan sebesar Rp50 ribu juga menjadi bagian dari persoalan. Petra menyayangkan kerusakan makam dilakukan untuk menyampaikan persoalan tersebut dan berharap pembayaran maupun pengelolaan makam dapat dibicarakan terlebih dahulu.

Petra berharap kejadian tersebut mendorong adanya kejelasan mengenai aturan pengelolaan kompleks pemakaman lama Pakuncen. Sebab, kawasan tersebut berbeda dengan kompleks makam Pakuncen baru yang dikelola Pemerintah Kota Yogyakarta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article