DPW NasDem DIY Protes Tempo, Ini Pernyataan Sikapnya

- DPW NasDem DIY memprotes pemberitaan Majalah Tempo berjudul 'PT NasDem Indonesia Raya Tbk' yang dianggap tidak berdasar dan menyerang pribadi Surya Paloh serta merusak citra partai.
- NasDem DIY menegaskan partainya tetap solid, konsisten memperjuangkan demokrasi, dan menolak tudingan keretakan internal maupun perpindahan kader seperti yang disebut dalam laporan Tempo.
- Mereka mendesak Tempo meminta maaf secara terbuka, memuat klarifikasi resmi, serta menegakkan kode etik jurnalistik agar reputasi Partai NasDem dan Surya Paloh dapat dipulihkan.
Yogyakarta, IDN Times - DPW NasDem DIY mendesak permintaan maaf atas pemberitaan Majalah Tempo yang berjudul 'PT NasDem Indonesia Raya Tbk' edisi Senin 13 April 2026.
NasDem DIY menilai pemberitaan tersebut tidak berdasar, dan dianggap menjatuhkan muruah partai pimpinan Surya Paloh.
1. Anggap tulisan tendensius, serang sisi personal Surya Paloh
Juru Bicara DPW NasDem DIY, Aulia Reza Bastian menyampaikan pernyataan sikap pengurus daerah atas pemberitaan tersebut. Mereka mengatakan, tulisan Majalah Tempo yang menyebut Partai NasDem akan diambil alih institusi lain tidak benar.
"Informasi itu tidak mencerminkan produk pers yang berkode etik karena tidak sesuai fakta dan tidak berimbang. Tidak ada usaha Tempo untuk mewawancarai Surya Paloh sebagai narasumber," kata Aulia membacakan pernyataan sikap di Kantor DPW Nasdem, Sleman, Selasa (14/4/2026).
Mereka menilai Majalah Tempo menyerang sisi personal Surya Paloh, di antaranya aspek bisnisnya. "Tempo menyatakan Surya Paloh babak belur mengurus NasDem sehingga ada upaya untuk dimerger dengan partai lain. Ini bentuk propaganda untuk menjatuhkan marwah Partai NasDem," lanjutnya.
2. Klaim NasDem konsisten berjuang menyehatkan demokrasi
Poin berikutnya, mereka menyebut informasi Tempo tidak berbasis fakta. Khususnya pada ulasan fenomena Partai NasDem merupakan cermin rapuhnya partai personal, serta suksesi kepemimpinan partai membuat isu keretakan di internal.
Kata Aulia, Tempo tidak menilai NasDem secara proporsional sebagai institusi penjaga pilar demokrasi. Padahal, sambungnya, partainya konsisten berjuang untuk menyehatkan demokrasi.
Dia membeberkan, pada Pemilu 2024 meski dengan berbagai upaya penjegalan, NasDem tetap mendapat kenaikan suara menjadi 14.660.516 suara atau 9,6 persen.
"Sayangnya Tempo tidak melihat itu," tutur Aulia.
Menyangkut tuduhan banyaknya kader NasDem yang pindah ke partai lain, Aulia menegaskan jika situasi di internal parpolnya selalu solid, demikian pula struktur dan mesin partai yang tetap utuh.
"Militansi kader NasDem di Jogja kuat. NasDem di DIY tidak akan emosional atau bertindak anarkis melawan upaya propaganda politik. NasDem di DIY tetap menjaga budaya Jogja yang arif dan santun," terangnya.
3. Desak permintaan maaf secara terbuka

DPW NasDem DIY, kata Aulia tetap menyampaikan tuntutannya atas pemberitaan Majalah Tempo tersebut. "Pertama, mendesak Tempo meminta maaf secara terbuka sebagai bentuk komitmen terhadap profesionalisme dan integritas insan pers. Kedua, memuat berita klarifikasi atau bantahan yang memulihkan reputasi Partai NasDem dan Surya Paloh," urainya.
Poin tuntutan ketiga, DPW NasDem mengingatkan agar Tempo memegang kode etik jurnalistik dan menyampaikan kebenaran, sekaligus penghormatan atas harkat martabat setiap narasumber. Menurutnya, kode etik semestinya menjadi pedoman agar Tempo lebih bermoral dan tidak menjadi industri pers yang brutal.
Aulia menambahkan, penggunaan diksi PT (Perseoan Terbatas) Tbk pada bagian judul telah mendegradasi kiprah perpolitikan NasDem seolah-olah sebagai parpol komersial dan hadir semata untuk kepentingan-kepentingan transaksional.
Padahal, menurutnya dengan berpegang pada idealisme dan tanpa menjual identitas tertentu, NasDem berjuang di daerah-daerah sehingga bisa menjadi sedemikian besar.
"Jadi wajar ada kemarahan dari Sabang sampai Merauke terhadap tulisan ini. Artinya, mau (soal pemberitaan rencana) merger aja belum ya kan, tidak ada, tidak berdasarkan fakta dan judulnya terlalu bombastis," imbuh Aulia.
Aulia merasa, Surya Paloh sebagai ketua umum menjadi korban pembingkaian (framing) melalui pemberitaan itu. Ia mempertanyakan sosok narasumber dalam tulisan investigatif atau laporan mendalam pada majalah edisi tersebut.
"Kalau seandainya Tempo tidak mengindahkan (tuntutan) atau malah nanti membuat sesuatu yang lebih blunder atau apa, ya tentu akan berkoordinasi dengan DPP apa yang harus kami lakukan. Hanya sepengetahuan saya hari ini dan besok mungkin seluruh pengurus NasDem dari Sabang sampai Merauke menyatakan 'kemarahan'. Tapi, tetap saja kami tidak mau memilih jalan-jalan yang tidak sesuai dengan konstitusi," pungkasnya.


















