Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Desak Stop MBG, Emak-Emak Pukul Panci dari Tugu Jogja ke UGM
Kelompok Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta kembali menggelar aksi turun ke jalan dan mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
  • Suara Ibu Indonesia Yogyakarta bersama mahasiswa dan aktivis menggelar long march dari Tugu Pal Putih ke Bundaran UGM sambil memukul peralatan dapur, menuntut penghentian program MBG.
  • SII merujuk data JPPI yang mencatat 43.838 korban keracunan makanan MBG di 36 provinsi hingga awal September 2026, serta menyoroti dugaan minim transparansi penanganan kasus.
  • SII menuntut penghentian dan evaluasi total MBG, penghentian intimidasi masyarakat sipil serta konflik horizontal, sambil meminta anggaran negara diprioritaskan untuk mitigasi dan penanganan bencana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Kelompok Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta kembali menggelar aksi turun ke jalan dan mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026).

Tak hanya emak-emak, aksi ini diikuti mahasiswa hingga aktivis. Mereka melakukan long march dari kawasan Tugu Pal Putih hingga Bundaran UGM.

Sepanjang perjalanan para ibu membuat bunyi-bunyian nyaring dengan denting pukulan peralatan dapur macam panci, wajan, ceret, spatula, centong. Aksi bertajuk 'Jalan Sore Pukul Panci' ini sebagai simbol protes dapur rakyat.

1. Satu tahun gerakan pukul panci, 43 ribu korban keracunan

Kelompok Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta kembali menggelar aksi turun ke jalan dan mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Koordinator SII Yogyakarta, Kalis Mardiasih, mengatakan aksi tersebut merupakan peringatan satu tahun gerakan pukul panci yang pertama kali digelar untuk merespons kejadian keracunan massal MBG di Bandung Barat.

Dalam keterangan persnya, Kalis merujuk pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat 43.838 warga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.

"Setelah satu tahun, hari ini data dari JPPI korban keracunan massal MBG ini sudah mencapai 43 ribu korban pelajar, anak-anak, dan juga ibu hamil,” kata Kalis.

Data itu disebut berasal dari catatan puskesmas, rumah sakit umum daerah, serta rilis dinas kesehatan di wilayah terdampak. Korban disebut tersebar di 36 provinsi dengan 28.103 korban pada 2025 dan 15.735 korban sepanjang Januari hingga awal September 2026.

2. Minim transparansi, desak anggaran dialihkan untuk penanganan bencana

Kelompok Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta kembali menggelar aksi turun ke jalan dan mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

SII juga menyoroti dugaan minimnya transparansi dalam penanganan kasus keracunan. Kalis mengatakan orangtua, guru, dan kepala sekolah di sejumlah wilayah mengalami tekanan untuk tidak menyampaikan informasi mengenai kasus yang terjadi.

"Di sini kami berdiri bersama mereka semua untuk mengirim dukungan, untuk mengirim keberanian bahwa para korban tidak sendiri, bahwa ada kami bersama mereka," kata Kalis.

Selain persoalan MBG, aksi tersebut menyoroti kondisi penanganan bencana di berbagai daerah. SII menyebut rentetan bencana, mulai dari gempa Flores, kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan, banjir, tanah longsor, hingga ancaman erupsi gunung api, membutuhkan dukungan anggaran dan penanganan berkelanjutan.

SII mencatat lebih dari 1.500 kejadian bencana terjadi di Indonesia sepanjang delapan bulan pertama 2026 berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka menilai alokasi anggaran negara perlu diarahkan pada mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan, dan pemulihan korban bencana.

3. Tiga tuntutan Suara Ibu Indonesia

Kelompok Suara Ibu Indonesia (SII) Yogyakarta kembali menggelar aksi turun ke jalan dan mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Dalam aksi tersebut, SII menyampaikan tiga tuntutan yakni menghentikan MBG dan mengevaluasi total tata kelolanya, menghentikan kekerasan serta intimidasi terhadap masyarakat sipil, dan menghentikan upaya membenturkan konflik horizontal untuk meredam kritik masyarakat.

Kalis menegaskan tuntutan mereka tetap sama seperti setahun lalu. "Stop MBG! Rombak desain tata kelola yang sentralistik dan bernuansa militeristik dan tidak berpihak kepada anak," jelasnya.

Melalui aksi damai tersebut, SII berharap solidaritas warga semakin kuat untuk mendesak pertanggungjawaban atas kasus keracunan MBG sekaligus mendorong kebijakan negara yang lebih mengutamakan keselamatan rakyat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article