Comscore Tracker

Cara Unik Balon Bupati Bantul dari Gerindra untuk Dekati Warga

Cukur rambut disambut hangat masyarakat dan pengunjung pasar

Bantul, IDN Times - Elektabilitas dan popularitas menjadi salah satu faktor penentu bagi partai untuk memberikan rekomendasi kepada bakal calon (balon) bupati atau wakil bupati pada Pilkada 2020 mendatang.

Balon bupati dari Partai Gerindra Bantul, Dewata Eka Putra, sangat menyadari dirinya membutuhkan elektabilitas dan kepopuleran untuk mendapatkan kendaraan politik dalam Pilkada Bantul 2020.

Baca Juga: Kenalan ke Warga, Balon Bupati Sleman Ini Gelar Potong Rambut Gratis

1. Dewa gelar cukur rambut gratis

Cara Unik Balon Bupati Bantul dari Gerindra untuk Dekati WargaCabub Bantul Dewata Eka Putra. IDN Times/Daruwaskita

Kondisi ini mendorong Dewa, panggilan akrab Dewata Eka Putra, untuk semakin intensif turun ke masyarakat. Salah satunya caranya yaitu dengan menggelar acara potong rambut gratis bagi masyarakat di Pasar Gathak, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Kamis (12/12).

‎Bertepatan dengan hari pasaran pasar Gathak yang jatuh setiap Legi banyak warga yang datang ke pasar yang tak jauh dari Balai Desa Sumbermulyo untuk membeli sembako, sayur mayur hingga merapikan rambut alias cukur rambut.

Dewa lantas berinisiatif memberdayakan tiga orang tukang cukur rambut yang mangkal di sisi utara pasar Gathak setiap pasaran Legi. Di yang tak muda lagi, mereka tetap setia  puluhan tahun mencari rezeki dengan memberikan jasa cukur rambut.

"Hasil dari cukur rambut ini dalam setengah hari dari buka sampai tutup sangat sedikit bahkan terkadang hanya dapat uang Rp10 ribu karena yang cukur rambut hanya 1 orang saja," kata Dewa.

2. Cukur gratis rambut jadi perhatian warga yang ke pasar Gathak ‎

Cara Unik Balon Bupati Bantul dari Gerindra untuk Dekati WargaCukur gratis di pasar Gathak Desa Sumbermulyo. IDN Times/Daruwaskita

Dewata mengaku tersentuh dengan kesetiaan 3 tukang cukur yang sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai tukang cukur meski hasilnya tak menentu. Menurutnya, profesi seperti tukang cukur ini yang perlu disentuh oleh pemerintah agar bisa berkembang meski secara umur, tukang cukur sudah tidak lagi produktif ketika masih muda.

"Makanya hari ini saya mencoba menyapa para tukang cukur ini untuk mengetahui permasalahannya dan membuka cukur gratis bagi masyarakat. Namun para tukang cukur sudah saya siapkan 'kejutan' dari saya. Jadi tidak akan rugi,"ungkapnya.

Cukur gratis yang digagas oleh Ketua IOF Pengda DIY ini ternyata membuat suasana cukup ramai. Tak menunggu lama bagi tukang cukur untuk mendapatkan kesempatan merapikan rambut pelanggannya.

"Jadi mereka itu punya langganan sendiri dan punya tarif sendiri dan tidak ada yang mematoknya. Antara tukang cukur dan pelanggan sudah saling tahu bayarannya berapa. Nah, ini unik karena tidak berlaku pada salon-salon modern yang mematok harga," ungkapnya.

3. Tukang cukur tak ada yang mematok tarif‎

Cara Unik Balon Bupati Bantul dari Gerindra untuk Dekati WargaCukur gratis di pasar Gathak Desa Sumbermulyo. IDN Times/Daruwaskita

Dengan tidak adanya penentuan tarif potong rambut ini pada akhirnya tercipta sebuah kesetiakawanan sosial bahkan bisa menjadi saudara meski berawal dari cukur rambut.

"Profesi tukang cukur ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka bisa menciptakan persaudaraan. Uang nomor sekian namun persaudaraan nomor 1," terang Dewa. "Ada semangat untuk membangun desa dan nata kutho."

4. Meski hasil kecil, Marjito tak akan berhenti menjadi tukang cukur‎

Cara Unik Balon Bupati Bantul dari Gerindra untuk Dekati WargaMarajito salah satu tukang cukur rambut yang setia dengan profesi tukang cukur rambut meski usia sudah 78 tahun. IDN Times/Daruwaskita

Salah satu tukang cukur rambut, Marjito (78) mengaku profesi yang digelutinya semakin tenggelam dengan semakin maraknya salon modern yang sampai ke kampung-kampung.

"Dulu tahun 90an masih ramai, padahal biaya cukur hanya Rp1000, namun sekarang dapat pelanggan 5 saja sudah sangat bersyukur," katanya.

Marjito mengaku selama masih kuat mencukur akan tetap menjalankan profesinya karena untuk bekerja lainnya tenaganya sudah tidak lagi kuat.

"Apapun hasilnya saya syukuri meski hanya tukang cukur. Yang penting bisa makan," kata Marjito dengan semangat.‎

Baca Juga: Berkas Balon Bupati-Wabup Bantul Resmi Diserahkan ke DPD Gerindra DIY

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya