Setahun Uji Coba Bus Listrik Jogja, Penumpang Masih Belum Maksimal

- Rute tetap: Terminal Jombor-Malioboro
- Waktu operasional sudah diujicobakan
- Full berbayar mulai 2026
Yogyakarta, IDN Times - Dinas Perhubungan atau Dishub Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap hasil evaluasi dari uji coba layanan bus listrik Trans Jogja di wilayahnya sepanjang tahun 2025.
Dishub melihat tak ada kendala berarti selama pengujiannya, sementara minat masyarakat terhadap transportasi umum justru dirasa masih jadi persoalan utama.
1. Rute tetap: Terminal Jombor-Malioboro

Kabid Angkutan Dishub DIY, Wulan Sapto Nugroho mengatakan, berdasarkan hasil kajian awal dan uji coba maka rute bus listrik Trans Jogja ditetapkan secara permanen yakni Terminal Jombor-Malioboro.
Rute ini sendiri sudah diujicobakan sejak September 2025 lalu, menggantikan rute lama yakni Ngabean-Malioboro.
"Di sana kan ada simpul terminal Tipe B di Jombor, artinya di sana tempat naik-turun penumpang. Kemudian, belum ada juga saat ini rute langsung Jombor-Malioboro. Ini juga sesuai dengan keinginan kita mempermudah masyarakat ke Malioboro dengan angkutan umum. Pas kita uji cobakan kemarin hasilnya juga bagus," kata Sapto saat dihubungi, Jumat (2/1/2026).
2. Waktu operasional sudah diujicobakan
Disbub DIY memiliki data penumpang selama masa uji coba kemarin, tapi angka terlampir tidak bisa secara mutlak menggambarkan antusiasme masyarakat terhadap transportasi umum berbasis listrik.
Menurut Sapto, hasil pendataan lebih dipakai untuk menetukan jadwal operasional armada atau di waktu-waktu mana penumpang paling banyak menggunakan layanan bus listrik ini. Sampai akhirnya ditentukan durasi operasional selama 16 jam, mulai pukul 05.30-20.30 WIB.
Waktu operasional ini sendiri telah diujicobakan selama dua bulan terakhir menggunakan rute Terminal Jombor-Malioboro. Dengan waktu 16 jam operasional itu, mesin bus juga diklaim masih aman. Setiap unit diwajibkan isi ulang baterai setiap daya menyisakan 20 persen.
Transisi dari para sopir yang biasa mengemudikan mesin diesel juga beres, meski pada masa awal-awal uji coba masih butuh waktu untuk beradaptasi.
Pemda DIY berharap pengerahan moda transportasi baru dengan teknologi lebih modern dan berkonsep hijau ini bisa menarik minat seluruh kelompok masyarakat. Meski, fakta di lapangan ternyata tingkat penerimaan masyarakatnya juga masih 'biasa-biasa saja'.
Memang ada peningkatan jumlah penumpang saat masa uji coba kemarin. Pada bulan November, tercatat 6.185 penumpang, sementara Desember 7.752 penumpang. Tapi, Dishub melihat dengan kacamata yang lebih luas.
"Analisa kami ternyata bukan masalah (transportasi umum) listrik atau tidak listrik masyarakat memilihnya, tetapi perlu ada kebijakan yang mendorong masyarakat penggunaan angkutan umum. Kalau kita hanya lihat soal listriknya, mau itu diesel atau listrik kalau mereka pengguna angkutan umum, pasti mereka akan milih (angkutan umum). Tapi kalau dia pengguna kendaraan pribadi, yang masih senang dengan motor, ya mau listrik pun juga nggak akan naik," paparnya.
Sapto meyakini, selama minat pemakaian kendaraan pribadi masih tinggi atau tidak ada aturan yang mendorong peralihan ke transportasi umum, 'iming-iming' tarif gratis seperti selama masa uji coba kemarin pun tak akan membuat pangsa pasar meluas.
Dengan kata lain, sulit menjangkau masyarakat selain mereka yang selama ini memang kesehariannya menggunakan moda transportasi umum.
"Di Jakarta itu kan ada ganjil genap, ERP (Electronic Road Pricing) itu kan kita juga belum, jadi agak berat kalau kita hanya pull (menarik minat masyarakat), tanpa ada kebijakan yang push, mendorong," katanya.
3. Full berbayar mulai 2026

Dengan berakhirnya masa uji coba, maka layanan bus listrik Trans Jogja akan memasuki fase operasional penuh pada 2026 dengan penerapan tarif reguler.
Dishub DIY menetapkan tarif bus listrik sebesar Rp2.700 per perjalanan. Sedangkan tarif khusus tetap diberlakukan, yakni Rp2.000 untuk golongan lanjut usia atau lansia dan difabel, serta Rp500 bagi pelajar pengguna Kartu Khusus.
Selama setahun uji coba kemarin, rute sempat berubah-ubah dan penumpang tidak dikenai biaya.
"Bus listrik ini kan sebenarnya lebih modern (armadanya) daripada Bus Trans Jogja (diesel), sehingga harapan kami masyarakat bisa menikmatinya. Yang jelas, unitnya lebih baru, bagus. Ini kan sebenarnya harapan kami jadi daya tarik, tapi ya tidak serta merta itu yang menjadi masyarakat mau naik angkutan umum. Ada faktor-faktor itu tadi," ucap Sapto.

















