Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Mahasiswa KKN UNY Dukung Pembelajaran Anak-anak di Aceh Tamiang
Mahasiswa KKN Kolaborasi UNSAM dan UNY mendampingi proses belajar anak-anak di Aceh Tamiang (Dok. Humas UNY)
  • Mahasiswa KKN kolaborasi UNY dan UNSAM mendukung pendidikan darurat di Aceh Tamiang pascabanjir dengan membuka kelas tambahan di kantor desa serta membantu anak-anak tetap semangat belajar.
  • Di Desa Babo, kegiatan belajar dipindahkan ke tenda darurat akibat kerusakan parah, namun guru dan relawan tetap berupaya menciptakan suasana aman dan kondusif bagi siswa.
  • Program trauma healing digelar untuk sekitar 100 siswa SD Negeri Sungai Iyu melalui aktivitas interaktif yang membantu anak-anak memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri setelah bencana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Di antara lumpur yang belum sepenuhnya kering dan bangunan yang masih meninggalkan jejak genangan, aktivitas belajar di wilayah Aceh Tamiang mulai kembali bergeliat. Di Desa Mesjid Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, kegiatan belajar tatap muka sudah hidup kembali. Banjir tidak menyebabkan kerusakan berat pada bangunan sekolah. Namun, sebagian siswa terpaksa mengikuti pelajaran tanpa seragam karena pakaian mereka terendam dan hanyut terbawa arus.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Samudra (UNSAM) terlibat aktif mendukung pelaksanaan pendidikan darurat di wilayah terdampak. Mereka tidak hanya berperan sebagai relawan, tetapi juga mendampingi proses belajar sekaligus memberi semangat bagi anak-anak yang berupaya pulih dari trauma bencana. Mereka lantas menginisiasi kelas tambahan di kantor kepala desa. Ruang tersebut dimanfaatkan sebagai kelas darurat yang digunakan untuk mendukung proses belajar siswa.

1. Belajar berhitung hingga permainan ringan

Andin, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNY, membantu anak-anak memahami materi berhitung melalui permainan edukatif sederhana. Sementara Syaif dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) menghadirkan aktivitas gerak dan permainan ringan guna mengembalikan keceriaan sekaligus mendukung pemulihan psikososial siswa.

Ikhlas dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) mendampingi pembelajaran sains dasar dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian siswa. Adapun Albar dari Fakultas Teknik (FT) membantu menata fasilitas belajar darurat agar lebih aman dan nyaman digunakan.

“Kami ingin memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak belajar mereka. Sekolah darurat bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk memulihkan semangat dan kepercayaan diri setelah bencana,” ujar Rizky, Ketua Tim KKN Kolaborasi UNSAM dan UNY, dilansir laman resmi UNY, Jumat (27/2/2026).

2. Belajar di tenda darurat

Mahasiswa KKN Kolaborasi UNSAM dan UNY mendampingi proses belajar anak-anak di Aceh Tamiang (Dok. Humas UNY)

Kondisi berbeda terjadi di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pustaka. Jika dibandingkan dengan Desa Mesjid Sungai Iyu, wilayah ini terdampak lebih parah. Banjir dengan ketinggian cukup signifikan merusak banyak bangunan. Sejumlah rumah warga hanyut terseret arus hingga rata dengan tanah, sedangkan fasilitas umum mengalami kerusakan berat.

Dampak tersebut ikut mengganggu proses belajar mengajar. Kegiatan sekolah terpaksa dipindahkan ke tenda darurat yang dijadikan ruang kelas sementara. Meski sarana dan prasarana terbatas, para guru bersama relawan tetap berusaha menghadirkan suasana belajar yang aman dan kondusif bagi anak-anak.

Seorang guru di Desa Babo mengatakan situasi ini tak memadamkan semangat siswa untuk belajar. “Kami mengajar dengan apa yang ada. Yang terpenting anak-anak tetap merasa aman dan tidak kehilangan kesempatan untuk belajar,” ujarnya.

3. Mahasiswa KKN juga hadirkan trauma healing

Selain itu, mahasiswa juga terlibat dalam pendampingan trauma healing. Salah satu yang terlibat ialah Amalia Ikhlasiati dari Prodi Pendidikan IPA, FMIPA UNY. Bersama tim KKN kolaborasi, Amalia mendampingi anak-anak yang masih diliputi rasa takut dan cemas pascabencana.

Kegiatan yang digelar di SD Negeri Sungai Iyu, Desa Mesjid Sungai Iyu, itu diikuti sekitar 90–100 siswa kelas 1 hingga kelas 6. Program yang dilaksanakan dalam lima pertemuan itu disusun bertahap dengan pendekatan menyenangkan agar anak-anak kembali merasa aman dan percaya diri sebelum mengikuti pembelajaran. Beragam aktivitas interaktif dilakukan, mulai dari bernyanyi sambil bergerak, permainan SOS, memory test, menggambar, hingga permainan kelompok sesuai usia. Pendekatan ini dirancang untuk memberi ruang aman bagi anak mengekspresikan perasaan mereka.

Pada sesi terakhir, siswa diminta menuliskan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan. Refleksi ini menjadi cara sederhana untuk membantu mereka mengungkapkan emosi. Mayoritas siswa mengaku senang dan antusias dengan kehadiran mahasiswa yang menghadirkan suasana belajar sambil bermain di tengah situasi pascabencana.

Salah satu guru SD Negeri Sungai Iyu, Rini Puspita Sari, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kehadiran mahasiswa membawa energi positif bagi siswa. “Anak-anak antusias sekali ketika kakak-kakak mahasiswa hadir. Mereka senang bisa bermain bersama,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa UNY Andin juga mengaku bersyukur dapat terlibat. Ia menilai pengalaman tersebut memberi makna, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi mahasiswa sebagai calon pendidik. “Saya merasa sangat senang dan bersyukur dapat bertemu serta berbagi kebahagiaan dengan mereka. Semoga kegiatan trauma healing ini dapat membantu memulihkan kondisi psikososial anak-anak,” tuturnya.

Editorial Team