Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Big Bad Wolf 2026 Dibuka Hari Ini di JEC Hadirkan 1 Juta Buku
Big Bad Wolf Books (BBW) 2026 di Jogja Expo Center, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • BBW 2026 digelar di Jogja Expo Center pada 3–13 September dengan lebih dari satu juta buku, menargetkan penambahan pembaca baru, khususnya mahasiswa dan pelajar.

  • Antrean sudah mengular sejak pukul 07.00 WIB meski pintu dibuka pukul 09.00; buku anak impor interaktif diminati, sementara jastip difasilitasi lewat area dan kasir terpisah.

  • Pemda DIY menyambut BBW sebagai penguat ekosistem literasi Yogyakarta, namun menekankan kegiatan perbukuan harus menghasilkan dampak membaca yang terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Big Bad Wolf (BBW) 2026 memasuki satu dekade kehadirannya di Indonesia, menargetkan lahirnya lebih banyak pembaca baru di Yogyakarta dengan menghadirkan lebih dari satu juta buku untuk berbagai kalangan. 

Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, mengatakan Yogyakarta kembali dipilih sebagai tuan rumah BBW yang dimulai hari ini, Kamis (3/9/2026) – Minggu (13/92026) karena memiliki ekosistem literasi yang kuat. Penyelenggara juga sengaja menggelar BBW pada paruh kedua tahun saat aktivitas perkuliahan berlangsung untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa dan pelajar.

Dari sekitar 3,2 juta penduduk Yogyakarta, ia berharap sepertiganya dapat berkunjung dan menemukan buku yang sesuai dengan minat mereka, bahkan dua atau tiga judul yang bisa memberikan perubahan dalam hidup. Wandi menjelaskan, pemilihan September bukan tanpa pertimbangan. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, BBW berlangsung saat masa libur kuliah sehingga jumlah pengunjung dari kalangan mahasiswa dan pelajar dinilai belum maksimal. "Tahun lalu kami hadir di Jogja pada saat masa libur kuliah sehingga jumlah pengunjung dari kalangan pelajar tidak setinggi itu," ujar Wandi. 

"Untuk target transaksi, kami tentu menargetkan angka yang lebih besar dari tahun lalu, namun target utamanya sebenarnya lebih kepada penambahan jumlah pembaca baru," katanya.

Ia berharap warga Yogyakarta tidak hanya datang untuk berburu buku, tetapi menemukan bacaan yang relevan dan memberikan pengalaman baru. "Dari total sekitar 3,2 juta penduduk Yogyakarta, saya berharap sepertiganya bisa mampir ke BBW dan menemukan dua atau tiga judul buku yang bisa mengubah hidup mereka," tutur Wandi. 

1. Antrean sudah mengular sejak pukul 07.00 WIB

Big Bad Wolf Books (BBW) 2026 di Jogja Expo Center, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Antrean pengunjung telah mengular di depan Hall Bima (A), Jogja Expo Center (JEC), sejak pukul 07.00 WIB. Padahal pintu masuk baru dibuka pukul 09.00 WIB. Marthius mengaku terkejut melihat jumlah pengunjung yang sudah datang sejak pagi. 

"Tahun ini kami sebenarnya mencoba buka lebih awal pada jam 09.00 karena belajar dari pengalaman tahun lalu, di mana saat kami buka jam 10.00, sudah banyak sekali orang yang mengantre dari jam 07.00," kata Wand 

Namun, keputusan membuka pintu satu jam lebih awal ternyata belum menghilangkan antrean. "Ternyata, begitu kami mulai lebih awal pun antreannya masih sama dan jumlahnya justru lebih besar daripada tahun lalu," imbuhnya. 

BBW 2026 membawa lebih dari satu juta buku baru yang menyasar beragam segmen pembaca. Koleksinya mencakup buku memasak, self-healing, kesehatan, aktivitas anak, hingga berbagai referensi hobi. Pameran ini sekaligus membawa misi "Ubah Dunia Satu Buku Setiap Waktu" yang bertepatan dengan momentum Hari Aksara Internasional.

Dari berbagai kategori yang tersedia, buku anak-anak impor berbahasa Inggris menjadi salah satu yang paling banyak diminati. Menurut penyelenggara, buku-buku tersebut memiliki konten dan teknologi interaktif, seperti fitur pop-up serta suara. Fitur semacam ini dinilai masih relatif jarang ditemukan di ritel buku lokal Yogyakarta. Kehadiran buku dengan pengalaman membaca yang lebih interaktif tersebut menjadi salah satu cara menarik minat pembaca dari kelompok usia anak sekaligus memperkenalkan pengalaman membaca yang berbeda.

2. Jastip dianggap bagian dari ekosistem BBW

Big Bad Wolf Books (BBW) 2026 di Jogja Expo Center, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

BBW juga mempertahankan ruang bagi jasa titip (jastip). Penyelenggara memandang jastip sebagai bagian dari ekosistem distribusi buku karena membantu masyarakat yang mengalami kendala akses maupun biaya logistik.

Wandi mengatakan pihaknya tidak memandang jastip sebagai kelompok yang harus dibatasi. "Menurut saya mereka tetaplah customer. Kami justru berterima kasih karena BBW sendiri belum bisa menjangkau semua kalangan masyarakat secara langsung, seperti grup ibu-ibu atau individu yang mengalami kesulitan akses logistik yang cukup mahal," ujarnya.

Untuk menghindari kepadatan dan menjaga kenyamanan pengunjung lain yang ingin melihat-lihat buku, tersedia area khusus jastip di bagian belakang. Jalur kasir untuk transaksi jastip juga dibuat terpisah. "Kami selalu memperlakukan jastip sebagai bagian dari ekosistem kami. Untuk mengurangi friksi dan tidak mengganggu pengunjung yang datang untuk sekadar melihat-lihat (browsing), kami telah menyediakan area khusus jastip di bagian belakang dengan kasir yang terpisah," lanjutnya.

Salah satu pelaku jasa titip (jastip), Rifa, warga Yogyakarta, mengaku masih melihat tingginya minat masyarakat terhadap buku anak. Ia bahkan telah menjalankan jasa titip buku sejak penyelenggaraan BBW tahun lalu. Menurut Rifa, pesanan buku anak masih banyak diterima melalui chat. Buku yang paling diminati bukan hanya cerita, tetapi juga buku referensi bergambar yang memuat unsur pengetahuan. "Masih, Mas. Masih dari dua tahun yang lalu masih tinggi banget sih, sampai sekarang juga masih," ujar Rifa.

Ia mengatakan pelanggan jasanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga working mom. Sementara itu, mekanisme jastip dilakukan dengan memotret buku-buku yang tersedia terlebih dahulu, kemudian membagikannya kepada calon pembeli. Buku yang dibeli selanjutnya disesuaikan dengan pesanan yang masuk.

3. Jogja sebagai ekosistem literasi

Big Bad Wolf Books (BBW) 2026 di Jogja Expo Center, Kamis (3/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Kehadiran BBW di tengah banyaknya festival dan kegiatan perbukuan di Yogyakarta sepanjang 2026 mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah DIY. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Syam Arjayanti mengatakan semakin banyaknya kegiatan perbukuan menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap Yogyakarta sebagai ruang tumbuh ekosistem literasi. 

"Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, kami menyambut baik kehadiran Big Bad Wolf dalam rangkaian satu dekade Big Bad Wolf di Indonesia yang membawa misi 'ubah dunia satu buku setiap waktu'," ujar Syam.

Menurutnya, buku tidak hanya dapat dipandang sebagai komoditas, tetapi juga bagian dari ekosistem pengetahuan dan kebudayaan. "Kami melihat dengan gembira semakin meriahnya kegiatan literasi dan event perbukuan. Bahkan di tahun 2026 ini, kami mencatat banyak event literasi dan perbukuan yang berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan," katanya. 

Meski demikian, Syam mengingatkan agar perkembangan kegiatan literasi tidak hanya diukur dari banyaknya acara yang diselenggarakan. Syam mengatakan DIY masih perlu melakukan pembenahan dalam pembangunan literasi masyarakat. Terlebih, terdapat metodologi baru yang mulai mengukur dampak langsung kegiatan membaca. "Kalau kita berbicara mengenai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, kita memang masih harus banyak berbenah. Angka capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di DIY saat ini adalah yang tertinggi secara nasional," ujarnya. 

Menurutnya, capaian tersebut perlu diikuti dengan dampak nyata terhadap masyarakat. Dengan adanya metodologi baru yang kemudian mengukur dampak langsung dari kegiatan membaca itu, menuntut untuk bukan hanya menghadirkan lebih banyak kegiatan, melainkan juga harus memastikan bahwa kegiatan tersebut menghasilkan dampak literasi yang nyata.

Ia mendorong seluruh pihak untuk membangun sinergi dalam mengembangkan ekosistem literasi dan perbukuan di DIY melalui formula yang terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article