Bantul, IDN Times – Pagi itu, di Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta yang berlokasi di Nitiprayan, Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tampak sejumlah anak berlarian di halaman. Dari halaman yang luas, suara tawa anak-anak terdengar bersahutan, berbaur dengan langkah kaki yang berlarian tanpa pola. Beberapa anak berkejaran, sementara yang lain berjalan santai menyusuri pematang sawah di tepi area belajar, seolah garis batas antara sekolah dan alam memang sengaja dibiarkan samar.
Di satu sudut, sekelompok anak tampak lebih serius. Mereka berbaris rapi, berlatih untuk upacara peringatan Hari Kartini. Sesekali terdengar instruksi, lalu diikuti gerakan yang masih canggung, diselingi tawa kecil ketika ada yang salah langkah. Tak jauh dari sana, suara hentakan kaki dan seruan pendek menandai latihan silat yang sedang berlangsung. Gerak tubuh yang tegas kontras dengan suasana santai di sekelilingnya.
Namun tidak ada yang benar-benar terpisah. Aktivitas-aktivitas itu berjalan bersamaan, tanpa sekat ruang. Anak-anak lain tampak duduk bergerombol di tanah, berbincang ringan, atau sekadar mengamati teman-temannya.
Di Salam, halaman bukan sekadar tempat bermain, ia adalah ruang belajar yang hidup. Pematang sawah bukan hanya jalur setapak, tetapi juga jalur pengamatan. Bahkan latihan upacara atau silat pun menjadi bagian dari proses yang lebih besar dalam belajar.
Tak ada bel yang terdengar memerintahkan anak-anak untuk masuk kelas. Tak ada suara guru yang mendominasi. Yang ada justru ritme alami, anak-anak berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, mengikuti minat dan kesepakatan bersama. Dari kejauhan, mungkin tampak seperti kebebasan tanpa arah. Namun jika diamati lebih lama, terlihat pola yang tumbuh perlahan, tentang bagaimana mereka belajar mengambil peran, berinteraksi, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami dunia.
