Yogyakarta, IDN Times - Akademisi Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Media Wahyudi Askar, menilai pemerintah terlalu fokus menjaga stabilitas narasi dibanding membaca realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi narasi optimisme ekonomi yang terus disampaikan pemerintah di tengah tekanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, publik saat ini semakin kritis dan mampu merasakan langsung tekanan ekonomi melalui sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya daya beli. Kondisi tersebut memunculkan jarak yang semakin besar antara optimisme pemerintah dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.
Menurut Media, pertumbuhan ekonomi yang selama ini diklaim pemerintah belum tentu mencerminkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara luas. Angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menunjukkan kondisi sosial masyarakat benar-benar membaik.
Ia mengungkapkan sebagian besar manfaat pertumbuhan ekonomi justru dinikmati kelompok elite yang memiliki akses terhadap modal, aset, dan proyek strategis nasional. Sementara itu, masyarakat kelas menengah dan kelompok rentan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat dalam kehidupan sehari-hari.
“Ekonomi itu memang tumbuh, tapi ekonomi itu hanya dinikmati oleh kelas atas, oleh orang superkaya, oleh mereka yang punya kapital, aset, properti, dan saham,” ujarnya dikutip laman resmi UGM, Kamis (21/5/2026).
