Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Air Sumur Tercemar Limbah SPPG, Warga Mangiran Bantul Terima Kompensasi
Air dari sumur yang melalui kran tampak berbusa dan bau. (IDN Times/Daruwaskita)
  • Limbah cair dari SPPG di Mangiran diduga mencemari sumur warga, dan hasil mediasi memutuskan pembangunan sumur bor pengganti serta perbaikan IPAL dalam waktu 10 hari.
  • Warga masih mengandalkan air galon karena air sumur bor baru tetap keruh, sementara petugas Dinkes dan DLH telah mengambil sampel untuk uji laboratorium.
  • Dinas Kesehatan Bantul menegaskan SPPG belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi dan menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan tingkat pencemaran air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Limbah cair dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Mangiran, Padukuhan Sapuangin, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul diduga mencemari sumur warga di sekitarnya.

Setelah mediasi antara warga dan pihak SPPG yang difasilitasi Forkompimkap Srandakan, disepakati SPPG membangun sumur bor sebagai pengganti. Pemkab Bantul juga memberi waktu 10 hari kepada SPPG untuk memperbaiki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar memenuhi syarat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Bantul.

Salah satu warga terdampak, Agus Indriyanto (55), mengatakan sumur bor mulai digali pada Kamis (30/4/2026) dan sudah mengeluarkan air, namun kondisinya masih keruh.

"Masih keruh sehingga air sumur bor belum bisa digunakan untuk memasak dan masih mengandalkan air bersih dari air galon yang dibeli dari warung," katanya, Minggu (3/5/2026).

1. ‎Air dari sumur bor tak bisa digunakan untuk minum dan memasak

Air dari sumur yang melalui kran tampak berbusa dan bau. (IDN Times/Daruwaskita)

Indri mengatakan air dari sumur bor saat ini baru bisa digunakan untuk mencuci peralatan dapur dan mandi, meski kondisinya masih keruh.

"Tukang sumur bor bilang mungkin setelah dua atau tiga hari mata air sumur bor baru jernih. Tapi nyatanya air sumur bor tidak sejernih air sumur yang tercemar limbah dari SPPG. Air sumur bor masih keruh, sedikit berbusa dan masih mengeluarkan bau tidak menyengat," tuturnya.

Ia menambahkan, untuk kebutuhan air minum dan memasak, SPPG masih membantu menyediakan dua galon air setiap hari.

2. ‎Petugas dari Dinkes dan DLH Bantul telah mengambil sampel dari air sumur yang tercemar limbah

Air dari sumur yang melalui kran tampak berbusa dan bau. (IDN Times/Daruwaskita)

Lebih lanjut Indri mengatakan petugas dari Puskesmas Srandakan dan Dinas Lingkungan Hidup Bantul telah mengambil sampel air sumur untuk diuji di laboratorium guna memastikan kandungan pencemar. Ia juga menyebut pihak SPPG membuat sumur resapan di sisi timur lokasi yang diklaim sebagai IPAL. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memperparah pencemaran pada sumur warga di sekitarnya.

"Kemarin SPPG juga terlihat membuat sumur resapan di sisi timur sumur resapan yang diklaim sebagai IPAL. Saya pastikan air sumur milik Pak Dayat yang semakin dekat dengan sumur resapan SPPG akan lebih parah lagi tercemar sebab jaraknya cukup dekat sekali," tandasnya.

3. ‎Sampel air sumur yang diduga tercemar limbah sudah dikirim ke laboratorium

ilustrasi laboratorium (pexels.com/pixabay)

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel air dari sumur warga yang diduga tercemar SPPG Trimurti Srandakan #004 dan mengirimkannya ke laboratorium.

"Ya kita masih menunggu hasil laboratorium sekitar satu hingga dua minggu ke depan," katanya.

Ia menegaskan SPPG tersebut hingga kini belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), meski telah memberikan layanan makan bergizi gratis (MBG).

"Pemkab kan memberi batas waktu 10 hari bagi SPPG untuk memperbaiki IPAL sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan SLHS. Ya kita tunggu saja," tandasnya.

Editorial Team