Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

‎1 Tahun Halim-Aris Pimpin Bantul, Apa Saja Program yang Sudah Terlaksana?

‎1 Tahun Halim-Aris Pimpin Bantul, Apa Saja Program yang Sudah Terlaksana?
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih dan Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta. (IDN Times/Daruwaskita)
Intinya Sih
  • Setahun memimpin, Halim–Aris mulai jalankan sebagian dari 13 program prioritas seperti peningkatan jalan desa, wirausaha muda, dan sertifikasi tenaga posyandu sejak tahun anggaran 2025.
  • Pada 2026, realisasi program infrastruktur terkendala efisiensi anggaran pusat, namun Pemkab Bantul tetap optimistis melalui skema Inpres Jalan Daerah untuk menutup kebutuhan pembangunan.
  • Pemkab Bantul menargetkan penurunan kemiskinan di bawah dua digit serta capaian jaminan kesehatan hampir 99 persen, dengan tantangan menyasar warga non-PBI agar ikut terlindungi BPJS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bantul, IDN Times - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, bersama Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, genap memimpin Kabupaten Bantul selama satu tahun pada Jumat (20/2/2026). Keduanya dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bantul periode 2025–2030 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 silam.

Saat kampanye Pilkada Bantul 2024, pasangan Halim–Aris membawa 13 program prioritas yang ditargetkan terealisasi dalam lima tahun kepemimpinan di Bumi Projotamansari. Setelah satu tahun berjalan, bagaimana pelaksanaan program-program unggulan tersebut?

Abdul Halim Muslih menjelaskan, perencanaan program unggulan sejak awal diarahkan untuk mulai berjalan pada 2026. Ia menyebut pelantikan yang berlangsung pada 20/2/2025 membuat APBD 2025 telah ditetapkan sebelumnya, sehingga ruang implementasi program pada tahun tersebut terbatas.

“Dengan APBD sudah diketok maka implementasi program-program unggulan tersebut lebih banyak akan dilakukan dengan anggaran APBD tahun 2026. Seperti pembebasan PBB-P2 pada lahan produktif, seragam gratis untuk siswa SD-SMP, penciptaan kewirausahaan muda baru, pengentasan stunting, masalah sampah hingga program infrastruktur,” ucapnya, Jumat (20/2/2026).

1. ‎Sebagian program sudah dimulai 2025

Ilustrasi perbaikan jalan (Dok. DPUPKP Bantul)
Ilustrasi perbaikan jalan (Dok. DPUPKP Bantul)

Sebagian program prioritas disebut telah mulai dijalankan pada tahun anggaran 2025. Di antaranya peningkatan status jalan pedesaan menjadi jalan kabupaten yang telah rampung pada 2025. Program penciptaan wirausaha muda juga mulai berjalan tahun lalu bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), meski jumlahnya masih terbatas.

“Selain itu optimalisasi fungsi pelayanan posyandu di mana fungsi layanan promotif dan preventif yang menjadi tugasnya posyandu sudah kita cicil atau kita mulai di tahun 2025 dengan mensertifikatkan para tenaga-tenaga posyandu itu,” ujar Halim.

Ia menambahkan, petugas posyandu yang menjalankan layanan kesehatan promotif dan preventif wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan serta sertifikasi. “Artinya para petugas posyandu ini menjalankan dua fungsi layanan kesehatan promotif dan preventif. Itu pun harus didiklat dan disertifikasi yang jumlahnya mencapai 50 persen posyandu dan sisanya menyusul,” tambahnya.

2. ‎Program prioritas infrastruktur 2026 alami kendala efisiensi anggaran

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. (IDN Times/Daruwaskita)

Halim menjelaskan secara administrasi pemerintahan, pelaksanaan visi dan misi kepala daerah pada prinsipnya baru dimulai pada 2026. Meski begitu, sejumlah program unggulan telah mulai dicicil pada 2025. Memasuki 2026, realisasi 13 program prioritas Halim–Aris menghadapi tantangan, terutama penurunan kapasitas fiskal akibat kebijakan efisiensi pemerintah pusat. Kondisi tersebut berdampak pada pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan talut di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, yang proyeksi anggarannya turun dari rencana sekitar Rp150 miliar, meski masih lebih tinggi dibandingkan 2025.

“Namun kita tetap optimistis karena Pemkab Bantul diberi kesempatan oleh pemerintah pusat untuk mengajukan Inpres Jalan Daerah atau IJD. Jadi DAK dinolkan oleh pemerintah pusat namun masih bisa mengajukan pembangunan jalan dengan IJD,” tandasnya.

Ia menyebut, meskipun alokasi APBD 2026 belum sesuai harapan, kebutuhan pembangunan jalan diharapkan dapat ditutup melalui skema Inpres Jalan Daerah. Program tersebut dikerjakan langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum tanpa melalui Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Mudah-mudahan dengan adanya IJD tersebut nantinya anggaran infrastruktur bisa mencapai Rp150 miliar,” tuturnya.

Halim juga mengakui efisiensi anggaran memicu kritik warga terkait kerusakan jalan yang belum tertangani. Kritik itu bahkan disuarakan melalui media sosial dengan istilah “jeglongan sewu”, yakni menanam pohon pisang di jalan rusak sebagai bentuk protes.

“Ya itu kritikan, masukan masyarakat Bantul kepada kita, tentu akan kita tindak lanjuti,” ungkapnya.

3. ‎Angka kemiskinan tahun 2026 ditargetkan dibawah dua digit

Ilustrasi warga miskin kota menarik gerobak bersama dua anaknya (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Ilustrasi warga miskin kota menarik gerobak bersama dua anaknya (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Terkait angka kemiskinan, Halim menyebut Pemkab Bantul menargetkan penurunan kemiskinan hingga di bawah dua digit pada 2026. Target tersebut dinilai cukup menantang, mengingat sebelum Badan Pusat Statistik merilis data terbaru, tingkat kemiskinan di Bantul masih berada di angka 11,6 persen. Artinya, untuk menembus di bawah 10 persen, diperlukan penurunan sekitar 1,6 persen dalam satu tahun.

“Yang terjadi selama ini penurunan angka kemiskinan dalam kisaran 0,4 persen, 0,6 persen dan penurunan kemiskinan sebesar lebih dari satu persen setelah pandemi COVID-19 meski saat pandemi COVID-19 mengalami kenaikan,” terangnya.

4. ‎2026 hampir 99 persen penduduk Bantul terlindungi jaminan kesehatan

ilustrasi BPJS Kesehatan (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
ilustrasi BPJS Kesehatan (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Terkait Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC), Halim menyampaikan capaian UHC di Bantul saat ini telah mencapai 99 persen. Namun, upaya mengejar satu persen tersisa dinilai tidak mudah. Pasalnya, kelompok warga yang belum memiliki jaminan kesehatan berada di atas desil lima, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai penerima bantuan iuran (PBI) dan wajib membayar iuran secara mandiri melalui BPJS Kesehatan.

“Jadi kita telusuri ada masyarakat yang masuk kelompok di atas desil lima ini yang tidak memiliki BPJS. Kalau mereka kita bantu dengan BPJS PBI tidak layak karena tidak miskin. Nah pekerjaan rumah kita ini mengejar yang satu persen ini memiliki jaminan kesehatan,” tutupnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More