Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Usia 103 Tahun, Hanya Satu Keinginan Mbah Mardijiyono di Tanah Suci
Mbah Mardijiyono (103 tahun) jemaah haji tertua dari Yogyakarta berinteraksi dengan pendampingnya Ibnu Khaldun di Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, Minggu (03/05/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
  • Mbah Mardijiyono, jemaah haji asal Bantul berusia 103 tahun, tiba di Madinah bersama Kloter 9 Embarkasi YIA dan menjadi sosok inspiratif karena tekadnya menunaikan ibadah di usia lanjut.

  • Meski kondisi fisiknya lemah dan pendengarannya terbatas, Mbah Mardijiyono tetap semangat menjalani perjalanan haji dengan bantuan pendamping yang setia menjaganya dari panas terik Madinah.

  • Dengan senyum tulus, Mbah Mardijiyono mengungkapkan satu keinginan sederhana.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Madinah, IDN Times – Di bawah langit Madinah yang sedang terik-teriknya, menyentuh angka 40 derajat celsius pada Minggu (3/5/2026) siang, sebuah pemandangan menyentuh hati tersaji di Terminal Haji Bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz. Di tengah ratusan jemaah yang bergegas mencari perlindungan dari sinar matahari, perhatian tertuju pada sosok rapuh bersahaja yang berjaket oranye membungkus batik biru khas jemaah asal Indonesia.

Sosok itu adalah Mbah Mardijiyono. Pada usianya yang telah menginjak 103 tahun, pria asal Piyungan, Bantul, DIY yang tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi YIA (Yogyakarta) ini, membuktikan bahwa panggilan Allah tidak mengenal batas fisik dan usia. Kedatangannya di Kota Nabi menjadi kisah inspiratif bagi yang percaya pada kekuatan niat yang tulus.

1. Menjadi jemaah terakhir yang dinantikan satu kloter

Mbah Mardijiyono (103 tahun) jemaah haji tertua dari Yogyakarta berinteraksi dengan pendampingnya Ibnu Khaldun di Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, Minggu (03/05/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Sore itu, pavilion 1 terminal haji sudah dipadati oleh hampir seluruh 360 jemaah asal Kabupaten Bantul. Suasana sejuk di dalam paviliun berbanding terbalik dengan panas menyengat di luar. Beberapa rombongan bahkan sudah mulai berbaris tertib menuju bus yang akan mengantar mereka ke hotel di kawasan Masjid Nabawi.

Namun, para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan rekan satu kloternya masih menyisakan satu ruang kecemasan: Mbah Mardijiyono belum terlihat. Seperti prosedur standar, jemaah lansia dan pengguna kursi roda diturunkan belakangan dari pesawat. Di area kedatangan itulah, sosok Mbah Mardijiyono, yang sudah tidak mampu berjalan, dinantikan dengan sabar.

2. Menembus panasnya Madinah

Mbah Mardijiyono (103 tahun) jemaah tertua dari Yogyakarta berinteraksi dengan pendampingnya Ibnu Khaldun di Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, Minggu (03/05/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Penantian itu berakhir saat Mbah Mardijiyono muncul di kursi rodanya. Tubuhnya sangat lemah, kulitnya keriput, dan pandangannya dibantu kacamata tebal. Setibanya di depan pavilion, Ibnu Khaldun, pendamping dari KBIHU yang setia mengawalnya, tanpa ragu langsung menggendong tubuh sepuh sang Mbah dari mobil golf. Ibnu mendekapnya, melindunginya dari sengatan panas Madinah yang kering dan membakar kulit, membawanya masuk ke area paviliun yang teduh.

Mbah Mardijiyono adalah potret nyata jemaah yang membutuhkan kesabaran ekstra. Pendengarannya sudah tak sempurna. Komunikasi dengannya harus dilakukan dengan perlahan, dan itu pun hanya telinga kanannya yang bisa menangkap frekuensi suara, meskipun sudah dibantu alat pendengar.

3. Senyum bahagia di Kota Kanjeng Nabi dan satu keinginan tulus

Mbah Mardijiyono (103 tahun) jemaah haji tertua dari Yogyakarta berinteraksi dengan pendampingnya Ibnu Khaldun di Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, Minggu (03/05/2026) (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Meski fisik melemah, semangat spiritual Mbah Mardijiyono justru memancar kuat. Selama perbincangan singkat dengan awak media, tidak tampak sedikit pun rona keletihan, ketakutan, apalagi kegelisahan di wajahnya. Sebaliknya, ia tampak sangat bersemangat.

Ketika Ibnu bertanya perlahan dekat telinganya, "Sudah tiba di kotanya Kanjeng Nabi, seneng?". Mbah Mardijiyono langsung melempar senyum lebar. Raut kebahagiaan yang tulus terpancar, meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. Saat ditanya alasan utamanya berangkat haji di usia senja, jawabannya sangat sederhana namun mendalam.

“Kepengen ibadah,” ucap Mardijiyono tulus. Seolah menegaskan niat murninya, ia menambahkan, “Gak pengen [minta/doa] apa-apa, pengennya hanya ibadah.”

Kini, perjalanan ibadah Mbah Mardijiyono yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tak lama setelah beristirahat sejenak, tiba waktunya ia naik ke bus untuk menuju akomodasi di kawasan Masjid Nabawi. Dari Madinah, ia akan merajut ibadah di Masjid Nabawi sebelum nantinya bertolak ke Makkah untuk umrah, dan melanjutkan rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Editorial Team