Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tim Medis Paparkan Bukti Isi Tabung Oranye Saat Aksi di Perempatan Gramedia
Mahasiswa peserta aksi di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta memberikan kesaksian saat rekannya dari tim medis dituduh membawa semprotan merica.. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

  • Mahasiswa Yogyakarta membantah tudingan bahwa tim medis aksi membawa semprotan merica, dengan menyatakan tabung oranye digunakan untuk membilas korban paparan semprotan.
  • Anggota tim medis menjelaskan tabung tersebut berisi antasida yang dilarutkan air, sebagai cairan pertolongan lapangan untuk membantu meredakan perih pada mata dan wajah.
  • Polda DIY menyatakan narasi awal memakai kata “diduga” karena tabung belum diamankan; polisi mencatat tujuh personel mengalami sesak napas dan iritasi, namun seluruh korban telah pulih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times - Mahasiswa peserta aksi di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta memberikan kesaksian saat rekannya dari tim medis dituduh membawa semprotan merica.

Hal ini dilakukan untuk membantah unggahan Polda DIY media sosialnya yang mengklaim mendapat temuan bahwa massa aksi membawa cairan merica. Polisi juga menyebut tujuh anggota Polresta Yogyakarta harus mendapatkan penanganan medis karena terkena semprotan merica ini.

1. Bela tim medis, bantu tangani peserta aksi korban semprotan merica

Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (2/9/2026). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Maul anggota Aliansi mahasiswa UPN 'Veteran' Yogyakarta sekaligus peserta aksi mengatakan, dirinya terekam dalam video yang diunggah Polda DIY. Saat itu salah seorang anggota tim medis dari peserta aksi dituding membawa semprotan merica dalam botol atau tabung oranye.

"Pada saat itu polisi mendatangi saya dengan keadaan berteriak bahwasanya dia (anggota tim medis) dituduh membawa sprayer yang berisi cairan merica, gitu," kata Maul di kawasan Bundaran UGM, Sleman, Kamis (3/9/2026).

Maul saat itu memberikan penjelasan bahwa botol oranye itu adalah milik tim medis massa aksi berisi cairan untuk membilas mata dan wajah korban semprotan merica.

"Karena pada saat itu saya mengerti bahwa ini adalah alat medis untuk menetralisir dari pepper spray tersebut, maka saya mengambil alat tersebut dan bilang ini punya medis. Namun sayangnya, pada postingan Polda DIY, suara dari video itu dikecilkan atau malah dihilangkan, gitu," kata Maul.

"Pada aslinya, terdapat video lanjutan bahwa saya membantu rekan-rekan yang terkena pepper spray dengan menggunakan alat ini, alat penetralisir dari pepper spray ini," sambungnya.

2. Berisi obat maag dilarutkan air

Aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta pada Selasa (2/9/2026), bubar setelah bertahan sekitar enam jam. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Salah seorang anggota tim medis dari massa aksi berinisial A menjelaskan, isi botol oranye itu merupakan cairan antasida yang dilarutkan air yang merupakan protokol standar tim medis lapangan untuk membilas mata dan wajah korban paparan gas air mata. 

"Sebenarnya isinya ini tidak lebih dari air dan larutan obat mag yang dicampur, karena sejauh ini di beberapa aksi sebelumnya cukup terbukti bisa membantu sementara efek perih dari gas air mata atau mungkin dari partikel pepper spray juga," katanya.

3. Ini penjelasan Polda DIY

Aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta pada Selasa (2/9/2026), bubar setelah bertahan sekitar enam jam. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Terpisah, Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan mengatakan, pihaknya menghormati dan menampung klarifikasi informasi dari mahasiswa. "Perlu kami sampaikan terkait isi tabung, karena pada saat aksi belum sempat diamankan oleh petugas akibat situasi di lapangan yang sangat dinamis, maka sejak awal narasi resmi kami menggunakan diksi diduga demi mengedepankan asas praduga tak bersalah," kata Ihsan dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Ihsan menuturkan fokus utama pihaknya adalah fakta klinis adanya tujuh personelnya mengalami sesak napas serta iritasi saat meredam keributan.

"Alhamdulillah, seluruh korban baik dari mahasiswa maupun petugas saat ini sudah ditangani medis dan telah pulih sepenuhnya. Situasi Kamtibmas Yogyakarta juga tetap terjaga, aman dan kondusif," tutup Ihsan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article