Terjadi PMK, Kementan Klaim Kebutuhan Sapi Aman untuk Lebaran

- Kementerian Pertanian: Persediaan daging sapi cukup hingga Idul Fitri 2025 meski terjadi PMK
- PMK di Indonesia belum masuk kategori wabah, namun penyebarannya cepat dan berdampak ekonomi peternak
- Pemerintah melakukan penghitungan untuk memastikan kebutuhan daging sapi Lebaran tahun ini terpenuhi
Sleman, IDN Times - Kementerian Pertanian menyebut persediaan daging sapi masih mencukupi untuk kebutuhan Idul Fitri 2025, walau saat ini terjadi penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Insyallah kita bisa melewati ini, dan sekali ini kita siap menghadapi puasa dan Lebaran tahun 2025 dengan persediaan daging sapi yang cukup, termasuk juga untuk Idul Adha nanti," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda di Sleman, Sabtu (11/1/2025).
1. Belum wabah, tapi ciptakan kerugian ekonomi

Bahkan, saat penyebaran PMK di Indonesia masuk kategori wabah pada 2022, persediaan daging sapi tidak kurang berkat kesiapan seluruh stakeholder terkait.
Sementara di tahun ini, lanjut Agung, penyebaran PMK belum masuk kategori wabah. Apalagi dengan jumlah kasus kematian ternak akibat penyakit ini adalah di bawah dua persen.
"Tetapi memang penyebarannya yang sangat cepat dan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kenapa? Karena harus melakukan vaksinasi, pengobatan, dan sebagainya yang tentu ini menambah biaya bagi para peternak kita," ucap Agung.
2. Masih ada stok impor sapi dan kerbau

Pemerintah saat ini melakukan penghitungan melalui neraca komoditas guna memastikan kebutuhan daging sapi untuk Lebaran tahun ini, ditambah stok impor kerbau dan sapi yang tentunya akan mencukupi produksi ternak dalam negeri.
"Dibandingkan dengan kasus di tahun 2022 ini jauh lebih kecil, artinya tidak akan berdampak signifikan pada ketersediaan daging untuk kebutuhan puasa dan Lebaran tahun 2025," katanya.
3. Klaim bisa kendalikan kasus PMK

Lebih jauh, Agung memastikan pemerintah saat ini masih mampu mengendalikan penyebaran PMK di Indonesia.
"Kita sudah melewati yang lebih parah dibandingkan dengan kondisi saat ini. Walaupun memang kita sudah memprediksi ada peningkatan kasus, dan ini terus kita tekan dan segera bisa mengendalikannya," pungkas Agung.

















