Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siasat Industri Pangan Tetap Naik Kelas Kala Harga Plastik Meroket
Jogja Food & Beverage Expo 2026 resmi digelar pada 8-11 April 2026 di Jogja Expo Center (JEC). (IDN Times/Tunggul Damarjati)
  • Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat penutupan Selat Hormuz membuat produsen pangan mencari alternatif bahan kemasan, termasuk kembali ke botol kaca untuk menekan biaya produksi.
  • GAPMMI mendorong pelaku industri pangan memanfaatkan momentum Jogja Food & Beverage Expo 2026 untuk berinovasi, meningkatkan kualitas, dan naik kelas di tengah tantangan pasokan bahan baku.
  • Jogja Food & Beverage Expo 2026 menghadirkan lebih dari 110 peserta dan berbagai program seperti demo masak, kompetisi kuliner, serta business matching guna memperkuat kolaborasi lintas industri makanan-minuman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan & Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, menyebut para produsen pangan di Tanah Air mulai berpikir untuk menyiasati masalah kenaikan harga dan kelangkaan plastik.

Masalah ini sendiri adalah imbas dari penutupan Selat Hormuz yang turut mendorong biaya logistik dan energi, sementara Timur Tengah selama ini juga menjadi pemasok bahan baku plastik.

"Tadi saya infokan beberapa produsen yang dulunya kemasannya botol kaca, sekarang minuman ya, ada sekarang yang yang kemudian beralih ke plastik sekarang sebagian mau balik lagi ke botol kaca untuk mengantisipasi," kata Adhi usai pembukaan acara Jogja Food & Beverage Expo 2026 di JEC, DIY, Rabu (8/4/2026).

1. Produksi cuma sepertiga kapasitas, cari pemasok baru

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan & Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Adhi menuturkan, produksi industri hulu plastik di dalam negeri turun hingga sekitar sepertiga kapasitas normal karena keterbatasan bahan baku ini. Banyak pula negara-negara pemasok yang mengurangi atau bahkan tidak memproduksi lagi imbas permasalahan ini.

Menurut Adhi, kondisi ini memicu harga plastik melonjak signifikan. Kata dia, kenaikan harga di tingkat produsen atau industri menengah besar rata-rata berkisar 30-60 persen.

"Tapi kalau pedagang kecil yang pedagang atau pedagang plastik lah ya yang untuk memasok ke industri-industri kecil rata-rata sudah naik 100 persen karena mereka stoknya sangat terbatas," katanya.

GAPMMI pun menurutnya telah turun tangan untuk mencari produsen dari negara lain sebagai alternatif pemasok bahan baku plastik selain Timur Tengah.

2. Waktunya naik kelas, meski di situasi kelangkaan bahan baku kemasan

Jogja Food & Beverage Expo 2026 resmi digelar pada 8-11 April 2026 di Jogja Expo Center (JEC). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Lebih jauh, Adhi berharap Jogja Food & Beverage Expo 2026 di JEC mampu menstimulasi para pelaku industri pangan untuk memutar otak dan bisa naik kelas di tengah situasi kelangkaan bahan baku kemasan ini.

"Apalagi di daerah-daerah perlu kita dorong supaya industri-industri kecil, industri menengah bisa semakin terinformasi pengetahuan-pengetahuan dan teknologi terbaru supaya bisa lebih maju," imbuhnya.

Kata Adhi, pameran ini menjadi momentum untuk memahami kebutuhan, selera, dan tren pasar guna menghadapi persaingan industri yang kian dinamis. Dengan inovasi, peningkatan kualitas, serta pemanfaatan teknologi digital, produk-produk lokal punya peluang menembus pasar global.

"Dan terbukti dari anggota kami yang kecil-kecil yang UKM, yang tadinya kemasannya, produknya belum bagus, akhirnya dengan berbagai pameran mereka memperbaiki dan akhirnya semakin banyak yang ekspor sekarang," katanya.

3. Ada apa di Food & Beverage Expo 2026?

Jogja Food & Beverage Expo 2026 resmi digelar pada 8-11 April 2026 di Jogja Expo Center (JEC). (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Jogja Food & Beverage Expo 2026 resmi digelar pada 8-11 April 2026 di Jogja Expo Center (JEC) oleh Krista Exhibitions Group, bersamaan dengan Jogja Pack & Process Expo, Jogja All Tea Expo, dan Jogja Printing Expo 2026.

Rangkaian pameran ini diharapkan membentuk ekosistem lintas industri makanan-minuman, pengolahan, teh, dan percetakan.

Pameran ini diikuti lebih dari 110 peserta termasuk 30 UMKM dengan target 15 ribu pengunjung, menampilkan beragam produk mulai dari kuliner Nusantara, minuman inovatif, hingga teknologi pengemasan dan pengolahan.

"Kami berharap pameran ini menjadi etalase kekayaan kuliner nasional sekaligus ruang bagi pelaku usaha untuk berinovasi, beradaptasi, dan memperkuat kolaborasi di tengah perkembangan industri yang kian dinamis," kata CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim.

Berbagai program unggulan turut dihadirkan, seperti Cooking & Baking Demo bersama chef ternama, Bakat Boga Challenge 2026 dengan tujuh kategori kuliner warisan Nusantara (Indonesia Traditional Jajanan Pasar, Modern Jajanan Pasar, Dress the Cake, Chiffon Cake, Nasi Tumpeng, Nasi Goreng, dan Mie Godhog Jawa), serta Business Matching untuk membuka peluang kerja sama.

Selain itu, terdapat kompetisi kopi ICAB ROC dan Jogja ROC Competition, serta program edukatif Tea Talks dan Tea Class dari Dewan Teh Indonesia yang semakin memperkuat pengembangan industri kopi dan teh nasional, didukung oleh berbagai instansi pemerintah dan asosiasi industri.

Editorial Team