Yogyakarta, IDN Times – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000 dinilai bukan terjadi secara mendadak. Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yudistira Hendra Permana, menyebut kondisi tersebut merupakan akumulasi kebijakan ekonomi selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Yudistira, pelemahan rupiah saat ini merupakan dampak dari ketidakdisiplinan fiskal dan moneter yang berlangsung dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun terakhir. Ia menilai tren pelemahan rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun lalu dan bukan muncul hanya dalam beberapa bulan terakhir.
“Rp18.000 itu jangan dipandang sebagai Rp18.000 di hari ini saja. Ini hasil akumulasi dari ketidakdisiplinan fiskal dan moneter selama kurang lebih tiga sampai empat tahun terakhir,” kata Yudistira, Jumat (5/6/2026).
