Aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta pada Selasa (1/9/2026), bubar setelah bertahan sekitar enam jam. (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
Massa membawa sejumlah spanduk bertuliskan tuntutan melakukan orasi dan aksi teatrikal di tengah perempatan. Melalui orasinya, massa menyuarakan berbagai macam tuntutan, di antaranya kritik besarnya anggaran pertahanan di era Pemerintahan Prabowo Subianto yang kontras dengan kesejahteraan guru.
Beberapa orator juga mempertanyakan keseriusan pemerintahan dalam pemulihan bencana Aceh dan Sumatra, gempa bumi NTT serta kebakaran hutan lahan (karhutla) di Kalimantan.
"Saya keluarga korban bencana NTT. Saat Prabowo ke sana, yang ditanyakan Prabowo apa, program MBG. Ditanyakan ke orang-orang di tenda yang trauma gempa. Empatinya di mana," katanya.
Orator lain menuntut negara mengusut misteri tewasnya Bambang Setiawan yang diduga lantaran aksi kekerasan. Massa menyesalkan jatuhya korban dari masyarakat yang tidak terlibat dalam aksi.
"Pembunuhan Bambang Setiawan membuat kita dibenturkan. Itu untuk membuat masyarakat takut, tapi kita hari ini di sini, kita tidak takut," kata si orator. Massa juga menuntut pembubaran organisasi masyarakat (ormas) yang bertindak anarkis dan selalu menebar ketakutan.