Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puluhan SD-SMP di Bantul Cuma Dapat Nol sampai 5 Siswa Baru
Ilustrasi SD di Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
  • Puluhan SD dan SMP di Bantul tercatat hanya menerima nol hingga lima siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027, memicu perhatian Disdikpora untuk melakukan pemetaan pendidikan.
  • Disdikpora Bantul menelusuri penyebab minimnya pendaftar dengan mencocokkan data sekolah dan kependudukan, termasuk kemungkinan siswa pindah daerah atau memilih pondok pesantren.
  • Meskipun ada sekolah yang kekurangan murid, Disdikpora belum memutuskan langkah regrouping karena masih mengkaji efektivitas, efisiensi, serta kebutuhan layanan pendidikan di tiap wilayah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times - Puluhan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Bantul, DIY tercatat tidak mendapatkan atau hanya menerima sangat sedikit siswa pada tahun ajaran 2026/2027.

Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul untuk memetakan kebutuhan penataan satuan pendidikan.

Puluhan sekolah cuma dapat nol sampai lima siswa baru

Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto mengatakan, berdasarkan data awal terdapat 10 SMP swasta yang hanya memperoleh nol hingga lima siswa baru.

"Untuk SD ada 12 sekolah, baik negeri maupun swasta," kata Nugroho, Selasa (14/7/2026).

Meski demikian, Disdikpora belum mengungkap daftar sekolah yang kekurangan siswa karena proses pemetaan dan analisis masih berlangsung. Tapi, Nugroho berujar penurunan jumlah peserta didik di sejumlah sekolah bukan hal baru. Pihaknya masih menelusuri penyebab sekolah-sekolah tersebut minim peminat.

"Ini masih harus kita analisis lagi," ucapnya.

Barangkali siswa pindah daerah atau masuk ponpes

ilustrasi seragam siswa SD (pexels.com/Rosyid Arifin)

Demi mengetahui akar persoalan, Disdikpora akan mencocokkan kondisi sekolah dengan data kependudukan, termasuk jumlah anak usia sekolah di Bantul.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan mendata berapa banyak anak asal Bantul yang memilih melanjutkan pendidikan di luar kabupaten atau masuk pondok pesantren (ponpes).

Dalam pemetaan tersebut, Disdikpora turut mengacu pada ketentuan jumlah maksimal peserta didik per rombongan belajar, yakni 32 siswa untuk SMP dan 28 siswa untuk SD.

"Setelah MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) selesai, kami akan mengkaji sekolah-sekolah yang minim murid," katanya.

Belum ada keputusan regrouping

Kendati telah mendapati sejumlah sekolah yang nyaris tidak mendapat siswa, Disdikpora menegaskan belum ada keputusan untuk melakukan penggabungan sekolah alias regrouping.

Kajian masih mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, dan kebutuhan layanan pendidikan di tiap-tiap wilayah.

"Saat ini kami masih memetakan kondisi riil masing-masing sekolah dan lingkungannya, sehingga belum ada keputusan mengenai regrouping," pungkas Nugroho.

Curated For You

Editorial Team

Related Article