Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puasa Ramadan Picu Autofagi, Ini Penjelasan Dosen FK-KMK UGM
Ilustrasi minum air dan vitamin saat puasa (pexels.com/Thirdman)
  • Puasa Ramadan memicu proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan dan memperbarui sel rusak, berlangsung sekitar 12–16 jam sesuai durasi puasa harian.
  • Autofagi membantu detoksifikasi, menstabilkan gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menurunkan berat badan dan kadar kolesterol menurut penjelasan dosen FK-KMK UGM.
  • Penderita diabetes tipe 2 perlu perhatian khusus saat berpuasa, sementara secara psikologis puasa membantu kestabilan emosi dan berfungsi sebagai reset metabolik tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Umat muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Selain bernilai ibadah, praktik puasa dapat memicu proses autofagi. Mekanisme ini merupakan proses alami tubuh untuk membersihkan serta mendaur ulang sel yang rusak, lalu menggantinya dengan komponen sel baru.

Dosen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, menyebut autofagi berlangsung sekitar 12–16 jam. Menurutnya, durasi puasa Ramadhan sudah memenuhi rentang waktu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya detoksifikasi.

“Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam, sementara puasa Ramadhan bisa 13-14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang,” ujarnya, Rabu (4/3/2026), dilansir laman resmi UGM.

1. Autofagi bantu proses detoks dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak

ilustrasi tubuh sehat (pexels.com/ Samer Daboul)

Mirza menyebut autofagi tak hanya membantu proses detoksifikasi, tetapi juga memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Sejumlah studi menunjukkan mekanisme ini berkaitan dengan kestabilan gula darah, meningkatnya efektivitas serta sensitivitas insulin, hingga penurunan berat badan dan kadar kolesterol.

“Autofagi tersebut bisa menjadi sebuah detoksifikasi dan perbaikan sel-sel yang rusak. Mampu menstabilkan gula darah, memberikan efektivitas kerja dan sensitivitas insulin, mengurangi berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol,” jelasnya.

2. Penderita diabetes tipe 2 perlu perhatian khusus

ilustrasi obat diabetes (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Mirza menyampaikan, dari aspek metabolisme glukosa, dampak puasa terhadap sensitivitas insulin tergolong konsisten di berbagai usia dan kondisi kesehatan. Pada orang sehat, puasa membantu menjaga sensitivitas insulin tetap optimal. Sementara pada pradiabetes, puasa dinilai mendukung regulasi glukosa agar kerja insulin lebih efektif. Namun, bagi penyandang diabetes tipe 2, ia menekankan perlunya perhatian khusus, terutama dalam pengaturan obat dan pola makan.

Ia mengingatkan, pasien diabetes yang tetap mengonsumsi obat tanpa mengontrol asupan saat sahur dan berbuka justru berisiko mengalami hipoglikemia. “Yang rutin minum obat, tetapi menjalankan puasa dan makanannya tidak terkontrol, justru akan berisiko terkena hipoglikemi. Maka, kalau divonis diabetes, jangan cuma fokus sama obat tetapi juga dengan pola makannya,” tegasnya.

3. Manfaat dari segi psikologi hingga reset metabolik

ilustrasi buka puasa (pexels.com/Thirdman )

Dari aspek psikologis, Mirza menilai puasa turut memengaruhi kestabilan emosi. Ia menjelaskan, kondisi sugar rush akibat konsumsi gula berlebih dapat ditekan karena aliran glukosa selama puasa lebih terkontrol. Saat lonjakan gula darah berkurang, seseorang cenderung lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

“Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, puasa juga bisa dipandang sebagai proses metabolik alami karena perubahan parameter kesehatan dapat diukur secara objektif, misalnya melalui medical check-up sebelum dan sesudah Ramadan. “Puasa bisa menjadi reset metabolik, karena ada autofagi, sehingga metabolik yang tidak dibutuhkan itu bisa dibuang,” jelasnya.

Editorial Team