Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Program Kewirausahaan Pelajar Lahirkan Puluhan Bisnis Beromzet Ratusan Juta
Program Zurich Entrepreneurship Program (ZEP). (Dok. Istimewa)
  • Program Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) berhasil menjangkau lebih dari 10 ribu siswa di tujuh kota dan melahirkan 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif Rp339 juta.
  • Pendekatan pembelajaran praktis dinilai penting untuk membekali generasi muda dengan keterampilan nyata seperti kerja sama tim, berpikir kritis, serta pengelolaan keuangan dan pengambilan keputusan finansial.
  • Metode pembelajaran berbasis pengalaman makin diminati sekolah karena membuat siswa lebih aktif, relevan dengan dunia kerja, dan menyiapkan keterampilan masa depan melalui praktik langsung membangun usaha.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Program pendidikan kewirausahaan bagi siswa SMA dan SMK, Zurich Entrepreneurship Program (ZEP), mencatat hasil positif pada tahun pertama pelaksanaannya. Sejak Juli 2025, program tersebut telah menjangkau lebih dari 10 ribu pelajar di tujuh kota.

Jumlah peserta yang terlibat melampaui target hingga 164 persen. Selain itu, program ini turut mendorong terbentuknya 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Melalui pendekatan berbasis pengalaman, ZEP menggabungkan pembelajaran kewirausahaan, literasi keuangan, dan kesiapan kerja. Peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses merancang ide usaha, menjalankan bisnis di lingkungan sekolah, hingga mengelola keuangan.

Kemampuan praktis jadi bagian penting generasi muda

Program Zurich Entrepreneurship Program (ZEP). (Dok. Istimewa)

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan pendidikan perlu membekali generasi muda dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, pihaknya berupaya membantu siswa meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan melihat peluang, serta keterampilan dalam mengambil keputusan keuangan.

"Capaian tahun pertama ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat memberikan dampak nyata dan mempersiapkan generasi muda dalam membangun masa depan,” ucapnya. ujar Edhi, Kamis (4/6/2026).

2. Siswa dilatih berbagai keterampilan

ilustrasi strategi digital marketing yang tepat dapat membantu shio Ayam sukses dalam bisnis (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Sebagai program pembelajaran terpadu, ZEP membekali siswa dengan keterampilan mengenali peluang usaha, menyusun rencana bisnis, serta mengelola usaha mikro. Program ini juga dirancang untuk mengembangkan kemampuan kerja sama tim, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah.

Selain kewirausahaan, peserta mendapatkan materi literasi keuangan yang mencakup pengelolaan anggaran, menabung, investasi, serta pemahaman risiko keuangan. Siswa juga memperoleh gambaran mengenai dunia kerja melalui sesi berbagi pengalaman bersama relawan Zurich.

Adriana Poglia, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, mengatakan capaian pada tahun pertama menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memperluas dampak program.

“Tahun pertama fase ini menunjukkan bahwa dampak positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi. Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerja bersama, semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang relevan dan peluang untuk membangun masa depan mereka,” katanya.

3. Pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati

ilustrasi seorang wanita mengelola bisnis online (pexels.com/Produksi Kampus)

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menyebut metode pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah karena membuat siswa lebih aktif terlibat dalam proses belajar. Menurutnya, praktik langsung seperti membangun usaha dan mengelola keuangan membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih relevan sekaligus menyiapkan keterampilan untuk masa depan.

“Kami melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung, mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan, hingga memahami dunia kerja. Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh guru, dampaknya tidak hanya terlihat pada tingginya partisipasi, tetapi juga pada lahirnya pengalaman belajar yang lebih relevan dan membantu siswa membangun keterampilan untuk masa depan,” ujar Utami.

Melanjutkan capaian ini, fase kedua ZEP akan terus diperluas hingga 2028 untuk menjangkau lebih banyak siswa, sekaligus memperkuat kapasitas guru dan keterlibatan sukarelawan dalam mendukung lahirnya generasi muda yang percaya diri, terampil, dan siap menghadapi perubahan.

Editorial Team

Related Article