Yogyakarta, IDN Times - Hampir seribu hewan ternak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Pemerintah daerah setempat pun meningkatkan mitigasi risiko wabah demi mengantisipasi terulangnya gelombang besar penyebaran PMK seperti 2022 lalu.
PMK Jangkiti Hampir Seribu Ternak di DIY, Apa Mitigasi Pemda?
1. Kasus capai 948, mayoritas sapi
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Syam Arjayanti menuturkan, berdasarkan pendataan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) tercatat sebanyak 948 hewan ternak di wilayahnya terjangkit PMK sejak Desember 2024.
"Mayoritas PMK menyerang sapi, kambing hanya satu kasus," kata Syam saat dihubungi, Selasa (7/1/2025).
Mengacu data yang dipaparkan Syam, satu kasus PMK pada kambing terpantau di Kulon Progo, yang mana pada kabupaten tersebut ditemukan total 11 kasus dan 1 hewan ternak mati.
Kabupaten Gunungkidul menjadi wilayah dengan temuan kasus paling banyak. Sebanyak 672 ekor sapi terjangkit PMK, 30 mati dan 27 lainnya dipotong paksa.
Berikutnya adalah Kabupaten Bantul dengan laporan 161 kasus, 25 mati dan 2 dipotong paksa. Lalu, Kabupaten Sleman 103 kasus, 8 mati dan 4 hewan ternak dinyatakan sembuh. Sedangkan Kota Yogyakarta sejauh ini masih nirkasus.
2. Dua faktor pemicu PMK kembali mewabah
Syam bilang ada dua faktor utama yang berkaitan dan memicu kasus PMK kembali merebak di wilayah DIY setelah gelombang wabah tahun 2022 lalu.
Pertama, adalah kasus penularan yang dipicu hewan ternak asal luar daerah. "Sebenarnya itu tertularnya dari sapi-sapi luar masuk (DIY)," ucap Syam.
Faktor ini tak diperparah dengan pemicu lain yakni menurunnya kesadaran para peternak untuk melaksanakan vaksinasi secara mandiri pada ternak masing-masing.
"Jadi sebenarnya sudah kita vaksin besar-besaran tahun 2022 untuk ternak, tapi kan sapinya itu moving (bergerak). Ada yang dijual, beli lagi, nah ini juga tidak memperhatikan belinya di pasar dari wilayah terdampak PMK, akhirnya menular (karena vaksinasi rendah)," jelasnya.
3. Mitigasi risiko ala Pemda, petani jangan pasif
Dengan merebaknya kembali wabah PMK, Pemda DIY telah menggencarkan vaksinsi menyasar seribuan hewan ternak meliputi sapi, kambing dan domba milik para peternak maupun UPT pertanian.
Pemda DIY, kata Syam, masih mengupayakan pengadaan vaksin lewat skema corporate social responsibility (CSR) sambil menanti pasokan stok dari Kementerian Pertanian.
Kemudian, Pemda DIY juga berproses dalam penyusunan draf Instruksi Gubernur (Ingub) yang mengatur pembentukan satuan tugas penanganan PMK hingga level kabupaten/kota. Termasuk, pengetatan pengawasan lalu lintas ternak di dalamnya.
"Ada juga surat edaran dari Kementerian (Pertanian) kalau di pasar sudah ditemukan ada hewan yang mati (diduga karena PMK), itu ditutup sementara selama 14 hari untuk pembersihan di pasar tersebut," papar Syam.
Lebih jauh, Pemda ikut serta memonitor asupan pangan dan vitamin pada ternak milik para petani di DIY, selain memperhatikan higienitas tiap-tiap kandang di tengah musim penghujan ini.
Satu hal yang tidak kalah penting yaitu membangkitkan kesadaran para petani atau peternak untuk melakukan vaksinasi PMK secara mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah.
"Vaksin untuk ternak sapi itu kan hanya Rp27 ribuan per ekor. Kalau dibandingkan dengan harga sapi (per ekor) yang sampai Rp10 juta misalkan, persentase (harga vaksin) kan kecil sekali. Harapan kita peternak itu sadar vaksin itu suatu kebutuhan, jangan menunggu sakit karena vaksin itu antibodi," pungkasnya.