Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Petani di Bantul Manfaatkan Lahan Pasir untuk Produksi Bibit Padi

Petani di Bantul Manfaatkan Lahan Pasir untuk Produksi Bibit Padi
Petani lahan pasir memanen bibit padi untuk dijual kepada petani. (IDN Times/Daruwaskita)
Intinya Sih
  • Petani Bantul beralih dari bawang merah dan cabai ke produksi bibit padi di lahan pasir karena lebih menguntungkan dan tahan terhadap cuaca tidak menentu.
  • Proses pembibitan dilakukan dengan menebar benih di lahan pasir yang disiram rutin dan ditutup terpal agar aman, lalu siap panen dalam 20–30 hari.
  • Dengan modal rendah, Yuni Maryanto mampu meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah per siklus, menjadikan bibit padinya incaran petani dari berbagai wilayah Bantul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bantul, IDN Times - Lahan pasir di kawasan Pantai Selatan Kabupaten Bantul biasanya dimanfaatkan untuk budidaya bawang merah dengan sistem tumpang sari bersama cabai atau tanaman hortikultura lainnya. Namun, cuaca yang tidak menentu membuat biaya perawatan meningkat dan tanaman rentan terserang hama.

Sejumlah petani kini beralih memanfaatkan lahan pasir untuk produksi bibit padi yang masa panennya sekitar 20 hari hingga satu bulan. Salah satu petani, Yuni Maryanto (52), mengatakan memilih tidak menanam bawang merah dan cabai karena risiko kerugian cukup tinggi.

"Kalau sudah diserang hama sulit untuk menanggulanginya dan butuh biaya sangat tinggi. Sementara hasil panen dipastikan produktivitas juga turun. Akhirnya justru rugi banyak," ujar warga Padukuhan Tegalrejo, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Minggu (3/5/2026).

1. ‎Mengolah lahan pasir khusus untuk pembibitan padi

IMG-20260503-WA0048.jpg
Yuni Maryanto petani menyulap lahan pasir untuk produksi bibit padi. (IDN Times/Daruwaskita)

Yuni mengatakan memilih memanfaatkan lahan pasir untuk produksi bibit padi karena dinilai lebih menguntungkan dengan biaya perawatan yang lebih rendah. Bibit padi juga bisa dipanen atau dijual dalam waktu 20 hari hingga satu bulan.

"Saya punya sekitar 80 lubang lahan pasir dan selama hampir satu tahun terakhir ini hanya saya tanami bibit padi untuk memenuhi permintaan petani selain itu keperluan sendiri," ujarnya.

2. ‎Proses penanaman bibit padi hingga siap dijual

IMG-20260503-WA0047.jpg
Proses menyiapkan lahan pasir untuk ditanami bibit padi. (IDN Times/Daruwaskita)

Yuni mengatakan proses penanaman bibit padi di lahan pasir relatif mudah. Lahan disiapkan, diberi pupuk, lalu benih padi langsung ditebar.

"Setiap pagi lahan disiram dengan air sebab menggunakan lahan pasir yang cepat kering bila terkena sinar matahari. Dan untuk menjadi buliran bibit padi tidak dimakan burung atau lainnya lahan ditutup dengan terpal sampai bibit tumbuh," terangnya.

Setelah dirawat sekitar 20 hari hingga satu bulan, bibit padi sudah bisa dipanen dan dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu per ikat.

"Yang membeli kebanyakan petani dari luar Kapanewon Sanden, seperti petani dari Kapanewon Bambanglipuro hingga Kapanewon Sewon. Biasanya petani sudah menjadi langganan saya," ucapnya.

Ia menambahkan jenis bibit padi disesuaikan dengan permintaan petani, di antaranya Inpari 32, IR 36, hingga jenis premium seperti Supadi atau Mapan.

3. ‎Raup cuan dari jualan bibit padi

IMG-20260503-WA0050.jpg
Bibit padi di lahan pasir yang dipanen dan dijual kepada petani. (IDN Times/Daruwaskita)

Yuni menyebut setiap penebaran satu kemasan benih padi seberat lima kilogram jenis Inpari 32 dengan harga Rp90 ribu dapat menghasilkan sekitar 60 ikat bibit padi atau senilai Rp600 ribu saat panen.

"Ya ibarat biaya produksi dan perawatan Rp250 ribu, saya masih mendapatkan keuntungan Rp350 ribu. Padahal dengan lahan 80 lubang bisa untuk sebar bibit padi hingga 75 kilogram atau sekitar 15 kemasan bibit padi dengan berat setiap kemasan 5 kilogram," ungkapnya.

4. Jadi incaran petani

IMG-20260503-WA0046.jpg
Petani lahan pasir sedang memanen bibit padi untuk dijual kepada petani. (IDN Times/Daruwaskita)

Petani asal Kalurahan Timbulharjo, Kapanewon Sewon, Bantul, Bani (64), mengaku mendapat informasi dari sesama petani terkait ketersediaan bibit padi di lahan pasir kawasan JJLS Pantai Selatan Bantul.

"Saya kemudian datang sesuai alamat yang diberikan petani yang merupakan tetangga saya. Ternyata masih tersedia bibit Inpari 47. Saya beli sekitar 20 unting bibit padi dengan harga per unting Rp10 ribu," ujarnya.

Ia mengatakan bibit tersebut digunakan untuk tambal sulam karena banyak tanaman padinya rusak akibat serangan hama keong. "Hama keong ganas sekali ketika memakan bibit padi yang baru saja ditanam," tambahnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More