Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kala Petani Punk Gunungkidul Turun ke Ladang dengan Manfaatkan AI

Kala Petani Punk Gunungkidul Turun ke Ladang dengan Manfaatkan AI
Petani Punk Gunungkidul. (Dok. Istimewa)
Intinya Sih
  • Komunitas Petani Punk Gunungkidul berkomitmen memasok bahan baku untuk dapur Makan Bergizi Gratis di lima titik wilayah Gedangsari dan Playen dengan dukungan teknologi modern.
  • Para pemuda ini mengintegrasikan sistem berbasis AI untuk menjaga kualitas, transparansi, serta memantau rantai pasok pangan secara real-time dari hulu hingga ke penerima manfaat.
  • Kolaborasi dengan Yayasan Bijana Paksi Sitengsu memperkuat upaya penyediaan pangan sehat dan berkelanjutan, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal melalui pembangunan dapur MBG yang hampir rampung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Gunungkidul, IDN Times - Di tengah tren generasi muda yang mulai meninggalkan sektor pertanian, sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Petani Punk Gunungkidul justru menunjukkan aksi nyata. Mereka berkomitmen untuk menjadi pemasok utama bahan baku bagi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Gunungkidul dengan sentuhan teknologi modern.

Saat ini, Petani Punk telah menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Kerja sama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan pangan ke dapur-dapur MBG di wilayah mereka. Targetnya, pada akhir April 2026 ini, hasil budidaya Petani Punk siap memasok lima titik dapur MBG yang tersebar di wilayah Gedangsari dan Playen.

1. Integrasikan teknologi berbasis AI

Ilustrasi AI. (pexels.com/cottonbro studio)
Ilustrasi AI. (pexels.com/cottonbro studio)

Tak tanggung-tanggung, para pemuda ini mengintegrasikan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memastikan kualitas bahan baku tetap terjaga serta mengawasi kelancaran rantai pasok dari hulu hingga ke tangan penerima manfaat. 

“Untuk menjamin kualitas dan transparansi, mereka menggunakan sistem teknologi terpadu berbasis AI. Sistem ini dikembangkan dengan konsep Hub yang mengintegrasikan data dari lima dapur yang ada, sehingga stok dan distribusi bisa dipantau secara real-time,” ucap penggagas Petani Punk, Sibags, Minggu (12/4/2026).

2. Respons minimnya regenerasi petani

WhatsApp Image 2026-04-12 at 08.39.01.jpeg
Kegiatan Petani Punk Gunungkidul. (Dok. Istimewa)

Sibags mengungkapkan Petani Punk Gunungkidul ini dirintis sejak tahun 2018. Gerakan ini lahir sebagai respons atas keresahan terhadap minimnya regenerasi petani di pedesaan. “Alih-alih memilih pekerjaan di sektor formal perkotaan, para ‘punker’ ini justru bangga turun ke sawah, meneruskan jejak profesi orang tua mereka dengan gaya dan metode yang lebih progresif,” jelasnya.

​Sibags mengungkapkan bahwa langkah ini adalah pembuktian bahwa identitas punk juga bisa memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional. “Kita juga merangkul generasi Z di desa untuk membudidayakan berbagai jenis komoditas, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, bahan pokok, hingga sektor perikanan dan peternakan,” jelas Sibags.

3. Dukungan dengan kolaborasi

WhatsApp Image 2026-04-12 at 08.39.00-2.jpeg
Kegiatan Petani Punk Gunungkidul. (Dok. Istimewa)

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu, Tedi Anggoro, menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk memastikan ketersediaan pangan yang sehat dan berkelanjutan bagi program pemerintah. “Hingga saat ini, progres pembangunan infrastruktur dapur MBG telah mencapai 80 persen. Fasilitas ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pengolahan makanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat lokal,” jelas Tedi.​

Dari sisi teknis, Fajar Saptono dari Tim IT menjelaskan bahwa penggunaan AI memungkinkan proses monitoring yang lebih terbuka dari hulu ke hilir. Segala proses, mulai dari masa tanam di pemasok hingga makanan sampai ke tangan siswa, dapat terdata dengan akurat. 

“Dengan sistem monitoring digital ini, diharapkan tercipta ekosistem pangan yang transparan dan efisien, sekaligus membangkitkan kebanggaan anak muda untuk kembali membangun desa melalui pertanian,” pungkas Fajar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More