Kurator YUTFest 2026, Elyandra Widharta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Enam kelompok yang terpilih menghadirkan pendekatan artistik yang berbeda, mulai teater musikal, drama realis berbahasa Jawa, kolaborasi lintas disiplin seperti pedalangan dengan tari, hingga teater dokumenter. Tema yang diangkat berkisar pada isu sosial, termasuk dinamika pariwisata di Jogja.
Menurut Elyandra, istilah urban dalam YUTFest, tidak semata dimaknai sebagai kota secara geografis, melainkan cara kelompok teater membaca dinamika sosial yang berkembang.
“Urban lebih kami maknai sebagai ruang berekspresi teman-teman teater dalam melihat isu di sekitarnya, baik yang tumbuh di kota maupun desa,” jelasnya.
Kurator lainnya, Koes Yuliadi menambahkan, YUTFest menjadi ruang transisi bagi kelompok teater untuk berkembang ke level yang lebih luas. Ia melihat TBY semakin mampu menjembatani generasi teater lama dan baru dalam membaca perkembangan zaman. “Kami berharap ini menjadi ruang transisional, tempat kelompok-kelompok yang sudah punya bekal dari wilayahnya bisa memantapkan diri untuk melompat ke forum nasional bahkan internasional,” kata Koes.
Ia menekankan festival ini memberi ruang eksplorasi seluas-luasnya, baik dari sisi bentuk pertunjukan maupun penggunaan bahasa. “Kami tidak mengharuskan bahasa Indonesia. Justru semangat lokalitas menjadi penting, termasuk pertemuan antara tradisi, modern, hingga kontemporer,” ujarnya.