Yogyakarta, IDN Times - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menyoroti pelemahan rupiah yang menembus Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, pelemahan ini dipicu kombinasi sejumlah faktor ekonomi dan nonekonomi.
Secara teknis, salah satu penyebabnya adalah penurunan surplus neraca perdagangan dibanding periode sebelumnya. Meski ekspor Indonesia masih lebih besar dari impor, selisihnya terus menyempit.
Dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi beban. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar, yang ikut menekan nilai tukar rupiah. Selain itu, suku bunga acuan AS yang masih relatif tinggi membuat Federal Reserve enggan menurunkannya, sehingga banyak investor memilih memindahkan dananya ke pasar yang dianggap lebih aman.
"Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat," kata Eddy, Selasa (5/5/2026).
