Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pakar UGM Ungkap Penyebab dan Dampak Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

Pakar UGM Ungkap Penyebab dan Dampak Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS
Ilustrasi uang rupiah Indonesia dengan Dolar AS (Pexels.com/MarkPiovesan)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah ke Rp17.400 per dolar dipicu penurunan surplus perdagangan, kenaikan harga minyak dunia, dan tingginya suku bunga AS yang mendorong arus modal keluar dari Indonesia.
  • Eddy menilai dampak pelemahan rupiah tidak sepenuhnya negatif karena bisa meningkatkan daya saing ekspor, namun sektor impor tetap tertekan dan perlu antisipasi agar tidak memicu spekulasi berlebihan.
  • Bank Indonesia menghadapi dilema antara menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi, sementara investor disarankan diversifikasi aset serta pemerintah diminta memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Yogyakarta, IDN Times - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menyoroti pelemahan rupiah yang menembus Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, pelemahan ini dipicu kombinasi sejumlah faktor ekonomi dan nonekonomi.

Secara teknis, salah satu penyebabnya adalah penurunan surplus neraca perdagangan dibanding periode sebelumnya. Meski ekspor Indonesia masih lebih besar dari impor, selisihnya terus menyempit.

Dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi beban. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar, yang ikut menekan nilai tukar rupiah. Selain itu, suku bunga acuan AS yang masih relatif tinggi membuat Federal Reserve enggan menurunkannya, sehingga banyak investor memilih memindahkan dananya ke pasar yang dianggap lebih aman.

"Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat," kata Eddy, Selasa (5/5/2026).

1. Tidak selalu berdampak negatif

Eddy menilai pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Di pasar internasional, produk Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif, yang berpotensi mendorong ekspor sekaligus membuka lapangan kerja. Biaya produksi dalam negeri yang relatif lebih rendah juga bisa menarik investor asing untuk masuk melalui foreign direct investment (FDI).

Namun, tidak semua sektor merasakan manfaat yang sama. "Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," ungkapnya.

Eddy mengatakan tekanan terhadap rupiah masih bersifat jangka pendek, tapi tetap perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini bisa memicu destabilizing speculation, yakni ketika pelaku pasar bereaksi berlebihan akibat kepanikan dan justru memperparah pelemahan rupiah. "Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation," ujarnya.

2. Dilema BI

Ilustrasi kurs dolar AS menguat terhadap rupiah. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi kurs dolar AS menguat terhadap rupiah. (IDN Times/Arief Rahmat)

Dalam situasi ini, Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema kebijakan. Penurunan suku bunga acuan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berisiko memicu inflasi akibat bertambahnya jumlah uang beredar. Sebaliknya, kenaikan suku bunga bisa menekan inflasi, namun pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat dan pengangguran meningkat.

"Kalau terus menurunkan policy rate, pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih tinggi, namun bahayanya inflasi dapat melonjak. Sebaliknya, jika menaikkan policy rate, inflasi lebih terkendali, namun pertumbuhan ekonomi terhambat," jelasnya.

Karena itu, Eddy menilai kebijakan moneter perlu dijalankan secara bertahap dan hati-hati dengan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Intervensi di pasar valuta asing juga perlu dilakukan secara terbatas atau sterilized. "Jika dilakukan terlalu agresif untuk menahan pelemahan rupiah, justru dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang merugikan, seperti tergerusnya cadangan devisa dan menurunnya kepercayaan pasar," katanya.

Eddy juga menegaskan bahwa BI tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah dinilai penting, terutama dalam menjaga keseimbangan anggaran, memberikan insentif bagi dunia usaha, serta mengelola utang negara secara efisien.

3. Investor perlu cermat

Di tengah pelemahan rupiah, Eddy menyarankan investor individu untuk lebih cermat dalam menentukan strategi investasi. Instrumen pendapatan tetap jangka panjang dinilai kurang menguntungkan karena fluktuasi nilai tukar dapat mengikis keuntungan riil meski imbal hasilnya terlihat menarik.

Sebaliknya, saham di sektor defensif dinilai lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Aset digital seperti kripto juga mulai diminati, meski risikonya tetap tinggi dan perlu disikapi dengan bijak. Eddy juga mendorong diversifikasi investasi ke berbagai jenis aset, termasuk aset global, sebagai strategi untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

"Strategi ini menjadi semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung," tuturnya.

4. Perlu disikapi serius oleh pemangku kebijakan

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)

Eddy menilai risiko terhadap perekonomian nasional perlu disikapi serius oleh seluruh pemangku kebijakan. Pemerintah diharapkan mampu mengomunikasikan kebijakan secara jelas dan konsisten guna menjaga kepercayaan publik dan investor. Kepastian hukum, keadilan, serta stabilitas politik dan keamanan juga menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.

"Pemerintah perlu mengkomunikasikan berbagai kebijakan dengan baik. Kepastian dan keadilan hukum perlu dijaga dan ditunjukkan. Kebebasan berinovasi dan insentif berusaha perlu ditingkatkan," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Jogja

See More