Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Danang mengingatkan UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 7 November 2003, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa wayang tidak sebatas bentuk seni berupa ukiran atau boneka yang dimainkan di balik layar. Lebih jauh, wayang membawa cerita yang menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari.
“Wayang itu bayangan, cerminan dari diri manusia yang hidup. Kadang sifat wayang persis sama dengan manusia. Orang Jawa juga menamakan anak dengan nama tokoh wayang,” ujarnya.
Tokoh-tokoh seperti Bima dan Arjuna, lanjutnya, kerap dipilih sebagai nama seseorang, karena membawa karakter yang dianggap baik. Kisah-kisah dalam pewayangan pun menyimpan berbagai pesan tentang kehidupan.
Menurutmya wayang semestinya tidak berhenti sebagai tontonan. Nilai-nilai di dalamnya dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan, baik hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarmanusia, maupun hubungan manusia dengan lingkungan.
“Wayang itu kalau dicermati bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan hidup sehari-hari. Agar anak-anak bisa memahami, harus kita sampaikan,” katanya.
Danang berharap kegiatan semacam ini dapat terus digelar sehingga Candi Prambanan semakin dikenal, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya. “Semoga candi tetap mendunia dan kunjungan semakin meningkat,” katanya.