Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menikmati Pagelaran Wayang Kulit dan Pesan Kehidupan di Candi Prambanan

Kab. Sleman
Menikmati Pagelaran Wayang Kulit dan Pesan Kehidupan di Candi Prambanan
Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Pagelaran wayang kulit lakon Wahyu Katentreman di Lapangan Rakai Pikatan, Candi Prambanan, menarik warga yang menikmati pertunjukan bersama keluarga serta produk dan kuliner UMKM.
  • IDM menggelar acara bertepatan dengan HUT ke-81 RI dan ulang tahun ke-46 Taman Wisata Candi, sebagai momentum mempertemukan masyarakat dengan warisan budaya Indonesia.
  • Wakil Bupati Sleman menekankan wayang, Warisan Budaya Takbenda UNESCO, memuat cerminan serta tuntunan hidup dan perlu dikenalkan kepada generasi muda di kawasan Prambanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sleman, IDN Times – Malam mulai turun di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026). Namun, Lapangan Rakai Pikatan justru semakin ramai. Warga berdatangan dan mengambil tempat untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang digelar InJourney Destination Management (IDM).

Sebagian penonton masing-masing membawa alas plastik, tikar, hingga berbagai perlengkapan sederhana dibentangkan di atas rumput. Mereka duduk berkelompok, menikmati pertunjukan sekaligus menghabiskan malam bersama keluarga dan warga sekitar.

  1. 1. Warga antusias untuk menyaksikan pagelaran wayang

    Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Di tengah suasana malam, wayang kulit lakon Wahyu Katentreman mulai dimainkan. Dalang Ki Gadhing Pawukir Seno Saputro tampil membawakan cerita. Ia merupakan putra almarhum dalang kondang Ki Seno Nugroho.

    Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Kehadiran berbagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi membuat suasana semakin hidup. Warga dapat menikmati pertunjukan sekaligus membeli berbagai produk dan kuliner.

    Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi momentum untuk mempertemukan masyarakat dengan warisan budaya Indonesia. “Bagi kami momentum ini sangat bagus karena bertepatan dengan HUT ke-81 Republik Indonesia dan ulang tahun ke-46 Taman Wisata Candi,” kata Indung.

  2. 2. Upaya melestarikan budaya

    Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa turut mengapresiasi penyelenggaraan pagelaran tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki arti penting karena berlangsung di salah satu kawasan wisata sekaligus situs budaya yang menjadi bagian dari sejarah Indonesia.

    Danang menilai pilihan wayang sebagai pertunjukan juga tidak terlepas dari keberadaan Candi Prambanan. Wayang dan candi sama-sama menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

    “Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan apresiasi dan terima kasih kepada TWC. Selain melestarikan budaya, keberadaan TWC juga memberikan efek bagi lingkungan sekitar, termasuk dengan memberdayakan UMKM,” kata Danang.

  3. 3. Wayang bukan sekadar tontonan

    Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Pagelaran wayang di kawasan Candi Prambanan, Jumat (21/8/2026) malam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Danang mengingatkan UNESCO menetapkan wayang sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 7 November 2003, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa wayang tidak sebatas bentuk seni berupa ukiran atau boneka yang dimainkan di balik layar. Lebih jauh, wayang membawa cerita yang menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari.

    “Wayang itu bayangan, cerminan dari diri manusia yang hidup. Kadang sifat wayang persis sama dengan manusia. Orang Jawa juga menamakan anak dengan nama tokoh wayang,” ujarnya.

    Tokoh-tokoh seperti Bima dan Arjuna, lanjutnya, kerap dipilih sebagai nama seseorang, karena membawa karakter yang dianggap baik. Kisah-kisah dalam pewayangan pun menyimpan berbagai pesan tentang kehidupan.

    Menurutmya wayang semestinya tidak berhenti sebagai tontonan. Nilai-nilai di dalamnya dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan, baik hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarmanusia, maupun hubungan manusia dengan lingkungan.

    “Wayang itu kalau dicermati bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan hidup sehari-hari. Agar anak-anak bisa memahami, harus kita sampaikan,” katanya.

    Danang berharap kegiatan semacam ini dapat terus digelar sehingga Candi Prambanan semakin dikenal, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya. “Semoga candi tetap mendunia dan kunjungan semakin meningkat,” katanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More