Lonjakan Digitalisasi di Daerah Dongkrak Transaction Banking BRI

- Digitalisasi di daerah mendorong lonjakan transaction banking BRI, dengan pengguna BRImo tembus 45,9 juta dan nilai transaksi mencapai Rp7.076,9 triliun per Desember 2025.
- Ekosistem UMKM makin aktif lewat platform Qlola dan akseptasi QRIS yang tumbuh pesat, mencatat peningkatan volume penjualan merchant hingga Rp223,2 triliun.
- Peningkatan transaksi cashless memperkuat dana murah BRI, menjaga rasio CASA di 70,6 persen serta menekan biaya dana DPK menjadi 2,9 persen pada akhir 2025.
Sleman, IDN Times - Adopsi teknologi keuangan yang makin inklusif di berbagai daerah terbukti menjadi motor penggerak utama bagi capaian transaction banking PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Penetrasi digital yang agresif di tingkat regional berkontribusi langsung pada penguatan struktur pendanaan berbasis dana murah (CASA) perseroan hingga penutupan tahun buku 2025.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengungkapkan, kinerja impresif ini didorong oleh optimalisasi ekosistem pembayaran dan perluasan kanal digital yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, BRI melakukan transformasi pada Funding Franchise yang bertujuan memperkuat struktur pendanaan perusahaan agar semakin efisien, stabil, dan berbasis dana murah,” ujar Hery dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025 di Jakarta, Kamis (26/02/2026).
1. Penetrasi regional topang kinerja nasional

Pertumbuhan ekosistem transaksi ini sangat ditopang oleh agresivitas BRI mengedukasi basis nasabah ritel di daerah. Sebagai gambaran kuatnya penetrasi tersebut, wilayah kelolaan BRI Regional Office Yogyakarta saja telah mencatatkan lebih dari 2,26 juta pengguna aktif Super Apps BRImo pada awal 2024. Tren positif perpindahan transaksi masyarakat ke ranah digital di daerah-daerah ini terus berlanjut hingga akhir 2025.
Secara kumulatif nasional, animo kedaerahan ini sukses mendongkrak total pengguna BRImo hingga menembus 45,9 juta user per Desember 2025 (tumbuh 18,9 persen YoY). Sejalan dengan perluasan basis pengguna, volume nilai transaksinya melonjak pesat mencapai Rp7.076,9 triliun, atau meningkat 26,4 persen YoY.
2. Geliat ekosistem UMKM dan akseptasi QRIS

Tidak hanya mengandalkan segmen ritel perorangan, kapabilitas transaction banking BRI juga diperkuat pada segmen menengah, komersial, hingga korporasi melalui platform terintegrasi Qlola. Pengguna aktif Qlola per Desember 2025 tercatat sebanyak 113 ribu entitas (tumbuh 48,1 persen YoY), dengan sales volume yang meroket 36,2 persen YoY menjadi Rp13.456 triliun.
Sementara itu, denyut nadi perekonomian riil—khususnya sektor UMKM lokal—tercermin nyata dari perluasan akseptasi pembayaran digital. Kepercayaan pelaku usaha terhadap ekosistem pembayaran BRI mencatatkan rekor yang signifikan di mana volume penjualan merchant naik 48 persen menjadi Rp223,2 triliun.
"Untuk QRIS BRI juga menunjukkan tren yang sama, sales volume naik 100 persen yoy menjadi Rp85,6 triliun, sementara jumlah transaksinya tumbuh 127,5 persen yoy menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi,” sambung Hery.
3. Efek domino transaksi cashless

Menurut bank BUMN tersebut, peningkatan drastis lalu lintas transaksi cashless ini pada akhirnya memberikan "efek domino" positif bagi neraca keuangan perseroan. Tingginya aktivitas pembayaran merchant dan penggunaan aplikasi mobile banking membuat dana masyarakat (giro dan tabungan) mengendap lebih lama dan stabil.
Hasilnya, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tumbuh 7,4 persen YoY menjadi Rp1.467 triliun. Rasio dana murah (CASA) terjaga di level yang teramat dominan, yakni 70,6 persen. Efisiensi dari tingginya rasio CASA ini langsung menekan biaya dana DPK menjadi 2,9 persen, membaik dari posisi 3,1 persen pada akhir tahun 2024.
“Capaian ini menegaskan bahwa transformasi BRIVolution Reignite yang sedang dijalankan tidak hanya memperkuat basis dana murah, tetapi juga memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Hery.


















