Kisah ODHIV, Vonis Sisa Hidup 6 Bulan hingga Bangkit dan Menginspirasi

- Pram divonis hanya bertahan enam bulan akibat HIV pada 2014, namun dukungan keluarga membuatnya bangkit dan disiplin menjalani terapi ARV hingga kondisinya membaik.
- Melalui pekerjaannya di LSM Pendukung Sebaya, Pram menemukan makna hidup baru dengan membantu sesama penyintas HIV dan membuktikan dirinya mampu berdaya.
- Kini sebagai Manajer Keuangan Yayasan Kebaya Yogyakarta, Pram terus aktif mendampingi komunitas rentan serta menunjukkan bahwa hidup dengan HIV tetap bisa sehat dan produktif.
Yogyakarta, IDN Times –Minum obat secara rutin dan dukungan lingkungan menjadi faktor penting bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Hal tersebut disampaikan Pram yang kini menjabat sebagai Manajer Keuangan Yayasan Kebaya Yogyakarta. Ia didiagnosis ODHIV pada tahun 2014 lalu.
Tanpa banyak penjelasan, ia hanya diberi perkiraan waktu enam bulan untuk bertahan hidup. “Waktu dokter melihat kondisi saya, itu langsung memvonis paling bertahan maksimal enam bulan. Saya divonis seperti itu, waktu itu tahun 2014. Di situ kayak langit runtuh, enam bulan lagi saya mati. Saya harus ngapain, harus berbuat baik? Harus berbuat jahat kah?, karena saya denial, gak menerima itu, kenapa harus saya,” kata Pram, saat agenda Yayasan Kebaya Yogyakarta dengan Jurnalis, di Yogyakarta, Selasa (7/4/2026).
1. Dari penolakan hingga dukungan dari lingkungan terdekat

Ketidaktahuannya soal HIV saat itu, membuatnya diliputi penolakan. Tanpa akses informasi, tanpa komunitas, dan belum adanya support system. Titik balik justru datang dari lingkaran terdekat. Ia memberanikan diri membuka statusnya kepada sang kakak. Respons yang diterima sederhana, tapi mengubah segalanya. “Kalau kamu mau sehat, kamu tetap adik saya. Caranya ya minum obat,” ujarnya menirukan pesan kakaknya.
Pram menemukan alasan untuk bertahan. Ia bertekad untuk sehat, mengonsumsi Antiretroviral (ARV), melawan efek samping dengan tekad sederhana: obat itu harus masuk ke tubuhnya, apa pun caranya. Meski sempat mual dan muntah, ia tetap berusaha meminum obat tersebut.
Dua tahun setelah diagnosis, Pram mengambil langkah besar, membuka status HIV kepada keluarga besar dalam sebuah pertemuan trah. “Saya cuma bilang, saya positif HIV. Sudah itu saja. Saya gak mengedukasi HIV itu apa, enggak,” katanya.
Ia sempat membayangkan penolakan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Satu per satu anggota keluarga mendekat, memeluknya, menunjukkan dukungan tanpa syarat. “Support system itu justru datang dari lingkungan sekitar kita. Akhirnya keluarga menerima saya dan gak ada masalah. Cuma, pesannya ya, kamu harus hidup sehat, baik, dan bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
2. Beri manfaat untuk orang lain

Perjalanan hidup Pram kemudian membawanya ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Berawal dari lamaran kerja yang dijanjikan bekerja di hotel, ia pun mulai tertarik. Namun, pada kenyataannya ternyata ia diterima di sebuah LSM yang bergerak di isu HIV yaitu LSM Pendukung Sebaya.
Awalnya ia merasa tertipu dan sempat ingin mundur, saat berjalan tiga bulan. Namun seiring waktu, ia menemukan makna baru. Ia banyak belajar dari penggerak LSM Pendukung Sebaya yang sebelumnya menjanjikan bekerja di hotel.
Di sana, Pram bukan hanya bekerja, tetapi juga belajar, bertumbuh, dan membantu orang lain yang mengalami kondisi serupa. Ia bahkan melampaui target pendampingan klien, membuktikan kapasitasnya sebagai penyintas sekaligus penggerak.
3. HIV bukan akhir segalanya
Tak berhenti di LSM Pendukung Sebaya, jalan Pram berlanjut ke Yayasan Kebaya Yogyakarta, sebuah organisasi yang fokus pada komunitas rentan, termasuk transpuan dan orang dengan HIV. Di tempat inilah ia menemukan ruang untuk berkontribusi lebih luas.
Dengan latar belakang akuntansi, ia mulai membantu kebutuhan dasar organisasi, bahkan ketika kondisi keuangan yayasan masih belum stabil dan bergantung pada donor yang datang silih berganti. Ketekunan dan konsistensinya mengantarkannya pada posisi strategis sebagai manajer keuangan. “Hari ini saya bisa membuktikan, orang dengan HIV masih bisa sehat, masih bisa bekerja, dan tetap bermanfaat,” katanya.
Meski kini berada di posisi manajerial, ia tak meninggalkan perannya sebagai pendamping Sebaya. Ia tetap aktif memberi dukungan dan edukasi kepada sesama penyintas, menjadi bukti hidup bahwa HIV bukan akhir dari segalanya. Pram saat ini berkeluarga, istri dan anaknya tidak terkena HIV.















![[QUIZ] Kamu Mudah Dimanipulasi atau Punya Batasan Kuat? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20250604/pexels-karolina-grabowska-6134903-120d99068824bc16e20fee794f36b728-c5babad5ba5357e885badf08634924d9.jpg)


