Pemilihan sampah di rumah-rumah warga proklim Sangurejo, Turi, Sleman (IDN Times/Yogie Fadila)
Pendampingan Atus terhadap Sangurejo tidak berhenti pada urusan teknis lapangan. Ia memfokuskan perannya pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga praktikum kurator keanekaragaman hayati di kampung iklim tersebut. Sebagai Dosen Pembimbing Lapangan, ia mendorong mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga belajar mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, dan mendukung aksi adaptasi-mitigasi perubahan iklim di Sangurejo.
"Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan," jelas Atus.
Kiprah Sangurejo pun kini merambah lebih luas lewat jejaring mitra binaan. Berdasarkan Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sangurejo membina 12 padukuhan lain, yakni Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo. Menurut Atus, jejaring semacam ini menjadi modal sosial penting yang menopang keberlanjutan program. "Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan," tambahnya.
Di luar urusan air dan sampah, Sangurejo di bawah pendampingan Atus dan warga juga melahirkan inovasi ekonomi kreatif berbasis lingkungan, salah satunya pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan pewarna alami untuk ecoprint. Produk yang dikembangkan komunitas Ecoprint & Craft Sangurejo (ECSA) itu telah mengikuti berbagai pameran, bahkan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden di Belanda.